Dengar Suara Bos Besar!

Saya pernah hidup bertetangga dengan seorang senior yang punya anjing yang ditakuti dan dibenci orang. Anjing itu besar perawakannya dan kenakalan tingkah lakunya benar-benar tak bisa ditebak. Rantai memang membatasi zona bahaya dan siapapun yang tak memperhatikan zona bahaya itu, tak tentramlah hidupnya. Semua orang yang bertamu ke sana pasti pernah merasakan gigitan atau serudukan anjing itu. Bahkan ada satu tetangga yang sampai opname ke rumah sakit gara-gara ditabrak anjing itu. Pokoknya mengerikan. Saya tak tahu bagaimana mesti menilai kesehatan psikisnya, benar-benar notorious dan hanya tunduk pada senior saya yang memeliharanya sejak kecil.

Saya tinggal bertetangga dekat (lha wong cuma tetangga kamar) selama setahun dan untungnya saya tak pernah sekali pun dinakali oleh anjing itu meskipun saya setiap hari pasti lewat di mukanya. Paling banter ia menggonggong, tetapi tak pernah menyentuh kulit saya (mungkin karena dia tahu kulit saya lebih tebal dari kulit badak). Orang-orang keheranan karena selama setahun saya tak pernah dicelakai oleh anjing itu, meskipun saya pun tak bersahabat baik dengannya, sampai suatu hari, sehari sebelum saya pindahan, saya mesti beli celana baru karena menendang keras moncong anjing itu tetapi dia berhasil menggigit celana saya. Sobek dah.

Masalahnya sepele. Ini benar-benar masalah anak-anak. Sewaktu saya lewat di depannya, saya tidak sangat ngeh bahwa di dekat moncongnya itu ada makanannya. Dia pikir saya hendak merebut makanannya (dasar anjing ya). Menyeringailah dia dan menyerang saya dan spontan saya menendangnya. Hiks hiks hiks… celana sobek. Batal deh saya punya rekor bebas dari gangguan anjing bengal itu! Akan tetapi, relasi senior saya dan anjing itu sungguh inspiratif. Anjing itu mengenali suara tuannya. Selirih apapun suara tuannya, ia bisa mendengar dan relasi mereka itu sedemikian hebohnya sehingga seolah-olah barang apapun di dunia ini gak penting buat mereka.

Dalam teks bacaan hari ini masih disodorkan elemen-elemen keindahan dari gembala yang baik. Jika kemarin ditunjukkan keindahan gembala yang baik dalam pemberian nyawanya, hari ini disinggung relasi yang indah antara gembala dan dombanya. Karena kemarin adalah Hari Minggu Panggilan, biasanya orang mengasosiasikan gembala dengan para imam. Akan tetapi, wacana Yohanes ini jelas tidak bicara mengenai (panggilan) imam. Gembala Utama itu adalah Kristus sendiri dan dari teks hari ini jelas bahwa kawanan domba mengenali gembala melalui suara gembala utama itu.

Aneka keributan di sana sini terjadi justru karena kita domba-domba ini kurang peka terhadap suara Gembala Utama dan malah terlekat pada suara gembala yang adalah asisten Gembala Utama itu. Jadi Surat Gembala Uskup itu gimana dong? Surat edaran Paus bagaimana? Surat-surat itu diterima sebagai bantuan untuk mendengarkan suara Gembala Utama yang tersirat dalam Kitab Suci. Pengandaiannya, domba-domba akrab dengan refleksi atas Sabda Allah sendiri sehingga seruan Uskup dan pembantu-pembantunya itu berfungsi membidani terkuaknya Sabda Allah yang sudah ditawarkan dalam hati setiap orang.

Jika tidak begitu, aneka dokumen Gereja, ensiklik, edaran Uskup, kebijakan pastor paroki, hanya akan berlaku sebagai hukum kaku yang justru menghalangi telinga hati untuk mendengar Sabda Allah yang sesungguhnya. Gak indah lagi jadinya.


SENIN PASKA IV B/1
27 April 2015
Peringatan Wajib St. Petrus Kanisius (SJ)

Kis 11,1-18
Yoh 10,1-10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s