Anjing Cakep atau Enak?

Semua orang tahu bahwa binatang bernama anjing mendapat tempat istimewa di hati orang Italia. Teman saya tampaknya belum begitu mengerti hal itu sewaktu belajar bahasa di Italia sehingga ia sempat eyel-eyelan (berbantah-bantahan) dengan temannya dari Amerika Latin yang sudah lebih fasih berbahasa Italia. Perbantahan itu terjadi ketika mereka melihat seekor anjing unyu-unyu di jalan dan temannya dari Amerika Latin itu berseru, “Guarda! Che bello il cane!” Teman saya ini melihat anjing itu dan bergumam,”Hmmm…. buono!”

Temannya berusaha memberi koreksi bahwa predikat yang tepat untuk anjing adalah ‘bello’ (indah, cantik) dan bukannya ‘buono’ (baik, enak). Akan tetapi, meskipun penjelasan temannya itu memang benar, teman saya ini bergeming. Saya kira orang Amerika Latin itu akan terus geleng-geleng selama ia belum mengerti bahwa teman saya ini melihat anjing itu dengan paradigma berbeda: bahwa anjing itu bisa dibaptis dengan nama tongseng *su. Itulah bedanya antara buono dan bello. Dua-duanya bisa diterjemahkan dengan satu kata dalam bahasa Indonesia: baik. Yang satu baik dalam arti hasil yang bisa dimanfaatkan (konkretnya dimakan seperti buah misalnya), yang lain baik dalam arti indah.

Hari ini dibacakan teks injil mengenai metafor gembala yang baik sebagai identitas yang dinyatakan Yesus. Kebaikan gembala ini tidak bisa ditangkap dengan paradigma utilitarian sensasional teman saya tadi: berguna tidaknya untuk perut atau kepuasan inderawi. Kebaikan gembala itu lebih tepat dimengerti sebagai keluhuran hati. Betapa indahnya dunia ini jika dipenuhi oleh makhluk-makhluk berhati luhur!

Sayangnya, bahkan dalam hidup beriman, kebanyakan orang jatuh pada paradigma ‘buono’ tadi, seolah-olah kebaikan bisa direduksi sebagai kaidah baik-buruk dalam moralitas, dilepaskan dari unsur-unsur keindahan. Paradigma ‘buono’ ini juga digenggam kelompok orang yang berpretensi hendak memonopoli keabsahan relasi antara manusia dan Tuhan. Tak mengherankan deh kalau orang membuat stereotype dan penilaian-penilaian moral terhadap status panggilan hidup seseorang. Panggilan dimengerti lebih sebagai status daripada dinamika relasi pribadi dengan Tuhan sendiri.

Paradigma ‘bello’ tidak menyangkal perlunya fungsi-fungsi ‘buono’ tadi dalam batas tertentu tetapi memberi sentuhan keindahan dalam penghayatan iman. Itu mengapa para pemusik, pelukis, pemahat, dan seniman lainnya menghasilkan karya yang menyentuh batin, bukan semata-mata telinga, mata dan indera lainnya. Dengan begitu bisa dimengerti karakter gembala yang baik tadi: keluhuran hati. Tolok ukurnya: memberikan nyawa bagi domba-dombanya.

Semoga di tengah kelesuan hidup, pengikut Kristus dimampukan untuk memberi nyawa. 


MINGGU PASKA IV B/1
26 April 2015
Hari Minggu Panggilan

Kis 4,8-12
1Yoh 3,1-2
Yoh 10,11-18

Posting Tahun Lalu: Umat Menggembalakan Imam?

1 reply