Tugasmu ‘Gampang’

Injil Markus adalah Injil tersingkat sehingga dulu sempat dipahami bahwa isinya adalah rangkuman dari dua Injil Sinoptik lainnya (Matius dan Lukas). Akan tetapi, kajian aneka ilmu menunjukkan bahwa Injil Markuslah yang dibuat lebih awal daripada tulisan lainnya. Injil ini ditulis dengan pembaca konkret kelompok orang yang baru saja bertobat dari kepercayaan terhadap dewa-dewi mereka. Tak mengherankan bahwa Markus ini tak menyinggung banyak soal tradisi bangsa Yahudi. Pokoknya dibuat ringkas supaya garis besar pewartaannya ditangkap orang yang tak mengenal kultur religius Yahudi. Untuk apa juga dituturkan kultur Yahudi kepada mereka: ini jelas bukan zionisasi (?).

Akan tetapi, bahkan meskipun begitu, teks Markus yang dibacakan hari ini kerap dipakai untuk berdebat mengenai pembaptisan. Teks ini rupanya diperdebatkan apakah asli tulisan Markus atau tempelan. Andaikan saja teks ini memang asli tulisan Markus, tetap perlu diperhatikan ayat: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Mrk 16,15-16 ITB). Perintahnya jelas ada pada kalimat pertama (dan kalimat berikutnya hanyalah keterangan): pergilah terserah ke mana, tapi wartakanlah kabar gembira kepada semua makhluk. Mau ditafsirkan bagaimana lagi selain terserah you mau ke mana jadi apa, pokoknya jadilah saksi kabar gembira bagi manusia, tuyul, setan, tumbuhan, tikus, bakteri, dll? Soal percaya gak percaya, baptis gak baptis itu urusan Allah yang nembak duluan, bukan? Lha wong kepercayaan kok dipaksa!

Benih radikalisme membesar ketika orang lupa pada pesan surat Petrus yang dibacakan hari ini: kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1Ptr 5,5b ITB) Konteksnya ialah bahwa orang tua mesti memberi keteladanan dan orang muda mesti tunduk pada orang-orang tua. Keduanya diminta rendah hati karena yang menghandle hidup mereka adalah Allah sendiri.

Jadi jelaslah baptisan bukan tujuan pada dirinya, melainkan buah dari ketaatan terhadap Allah sendiri dalam komunitas jemaat beriman (yang orang mau memasukinya). Dengan kata lain, baptisan adalah buah kesaksian atau keteladanan pengikut Kristus. Kalau kesaksiannya nol, kenapa orang lain mesti tertarik untuk dibaptis? Sangat masuk akallah kata-kata Mahatma Gandhi: I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ. 

Jika baptisan jadi tujuan utama, agama lebih dinomersatukan mengatasi kabar gembira; atau kabar gembira itu dikorupsi jadi kristenisasi. Bukan lagi agama jadi sarana perjumpaan dengan Allah, melainkan kata ‘Allah’ jadi sarana orang untuk menguasai orang lain. Yang punya duit, yang punya kuasa, yang bisa mengumpulkan banyak orang, bisa memainkan tafsir dan kharisma yang dimilikinya untuk kepentingan ideologisnya. Ia bisa menyumbangkan banyak uangnya untuk negara, universitas, gedung gereja, dan lain-lainnya… dan lupa bahwa Yesus Kristus yang digembar-gemborkannya itu malah hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.

Para pewarta nan ulung yang berkotbah dengan uang berlimpah ruah itu bisa lupa bahwa Yesus Kristus yang diwartakannya memberi kesaksian yang 180 derajat berbalik dari gaya hidupnya. Tugasnya gampang kan? Cuma menunjukkan diri sebagai saksi warta gembira, warta kebangkitan.


Pesta St. Markus (Penginjil)
(Sabtu Paska III)
25 April 2015

1Ptr 5,5b-14
Mrk 16,15-20