Show who you are!

Tampilkan identitas dirimu sebagai anak-anak Allah bukan dengan kesucian narcisistik, melainkan dengan tindakan adil terhadap semua orang, supaya nama Allah dimuliakan.

Minggu ini hanya ada tayangan tiga klip. Mohon fokus pada teks karena dialognya ada dalam “bahasa Jawa Kuna” yang kita tidak paham. Klip pertama:

Apa hubungannya klip singkat dengan kotbah? Saya mau menunjukkan dua sudut pandang. Dalam klip tadi terdapat dua sudut pandang. Semuanya sama-sama bicara mengenai jam. Si gembala melihat jam, tetapi pengendara motor itu melihat anunya keledai. Dua sudut pandang ini juga ada dalam teks misa kita hari ini, yang satu pada cover (luar) dan yang lainnya pada isi (dalam).

Pada cover ditulis tebal-tebal: Jadilah terang dunia! Iman harus ditampakkan dalam tindakan nyata. Ini semua adalah sudut pandang dari luar. Misalnya, orang berkata,”Jadi orang itu mbok yang sopan!” Itu artinya orang yang disasar dianggap tidak sopan atau belum sopan sesuai dengan ukuran (dari luar dirinya). Juga kalau ortu berpesan, “Nanti kamu jadi dokter ya!” Itu berarti yang dipesani bukanlah dokter. Demikian halnya pernyataan bahwa iman harus ditampakkan dalam tindakan nyata. Ini adalah iklan dari luar: siapa yang mengharuskan? Orang katolik harus ke gereja tiap minggu: ini juga sudut pandang luar. Ke gereja karena wajib jelas tindakan yang motifnya berasal dari luar. Bagaimana sudut pandang dari dalam? Kita undang mbak Laura Pausini untuk menjelaskannya dalam klip.

Jangan takut, jangan biarkan dirimu terpuruk, dikontrol kekuatan dari luar yang membuatmu kehilangan harga diri, tak bisa menemukan identitas dan jati dirimu. Apa jati diri kita? Ini adalah sudut pandang dari dalam: kamulah terang dunia. Yesus tidak meminta kita supaya menjadi terang dunia. Ia menunjukkan identitas kita: kamulah terang dunia!

Dari manakah jati diri ini? Dari Kristus sendiri yang dalam Injil Markus 9:7 dinyatakan sebagai Anak Allah. Kita adalah anak-anak Allah, jadi tak perlu diperintah supaya menjadi anak-anak Allah. Kita cukup menampilkan jati diri kita dengan cara seperti dituliskan dalam kitab Yesaya: membagi roti, memberi pakaian kepada orang miskin dan seterusnya. Ini bukan soal keluar dari gereja dan memberi uang receh kepada pengemis: ini soal bertindak adil terhadap sesama. Kita bertindak adil bukan karena diharuskan untuk berlaku adil, melainkan karena kita ingin menampilkan jati diri kita sebagai anak-anak Allah.

ConditioningMemang, identitas itu banyak kali terkubur oleh aneka kepentingan dan kebutuhan narcisistik kita: diri sendiri, keluarga, teman, partai, suku, agama, dan sebagainya. Niat perilaku adil kita sering terkubur oleh kesucian narcisistik: membantu orang lemah untuk menunjukkan kekuatan kita, perusahaan, partai, dan lain-lainnya. Ini indikasi ketidaktulusan dan ketidaktulusan ini mengaburkan identitas kita sebagai anak-anak Allah. Tujuan kita pun tak tercapai.

Apa tujuan kita? Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar: supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga. Ini tolok ukur identitas kita: orang lain memuliakan Bapa di surga, bukan memuliakan diri sendiri yang narsis. Bagaimana kita keluar dari kungkungan narcisisme itu? Silakan mbak Laura (klip Ascolta il tuo cuore: Dengarkan [suara] hatimu).

Ya Allah, kami mohon terang Roh Kudus-Mu supaya kami berani masuk pada kedalaman hati dan berjumpa dengan Kristus di sana, supaya kami dapat bertindak adil kepada sesama dan Engkau sendiri dimuliakan karenanya. Amin.

11 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s