Tritunggal: Satu Kenyataan, Dua Sudut Pandang

Misteri Allah Tritunggal membuat saya keder. Kebanyakan dari kita mungkin juga mengalami kesulitan, bukan hanya untuk menjelaskan, melainkan juga untuk memahami misteri Allah Tritunggal Mahakudus. Kenapa sulit memahami misteri Allah Tritunggal?

Mbah canggah saya dalang, buyut saya dalang, kakek saya dalang, ayah saya pembantu dalang, saya penonton dalang. Yang saya ketahui dari tontonan saya itu, sebelum memainkan lakon semacam Bharatayuda, buyut saya mesti berpuasa dan bermati raga. Saya meniru metode pendahulu saya itu dengan meditasi Tritunggal Mahakudus, tapi yang muncul dalam imaji saya adalah suasana mal yang semakin marak di Yogyakarta ini: orang sibuk dengan gawai masing-masing bahkan meskipun duduk bersama. Tak ada komunikasi antar mereka. Barangkali tak ada relasi juga. Itu kenapa memahami misteri Allah Tritunggal jadi susah.

Tak ada cara untuk menjelaskan misteri Allah Tritunggal Mahakudus selain dengan kata kunci relasi cinta. Pada umumnya, orang yang gak kontak dengan cinta takkan meletakkan kepercayaannya kepada Allah. Cinta itulah yang memungkinkan adanya relasi.
Apa yang mesti di’relasi’kan? Allah yang mahaesa dan sebelas rasul alias manusia yang percaya kepada-Nya.
Kenapa mesti dihubungkan? Karena ideologi tentang Allah hanya tinggal dalam pikiran, jadinya Allah cuma jadi produk ide atau bikinan pemikiran manusia belaka, yang gak pantas disembah. Yang pantas disembah ya pribadi ilahi.
Bagaimana menghubungkannya? Dengan Roh Kudus yang diutus Kristus yang telah bangkit itu.
Apa indikator hubungan itu?Kemerdekaan orang yang menerima Roh untuk menjadi diri sendiri [silakan klik di sini kalau mau keterangannya]. Apa itu diri sendiri? Anak Allah. Anak Allah tidak akrab dengan roh perbudakan yang membuat orang takut, bahkan dalam berdoa pun takut: boleh gak ya duduk waktu kemuliaan, boleh gak ya angop, boleh gak ya anak menangis di gereja dibiarkan, boleh gak ya… bla bla bla. Ketaatan dalam Roh ini melampaui batas-batas legalisme atau klerikalisme.

Identitas anak Allah seperti itu terkuak dalam pribadi yang punya kepercayaan diri atas peran yang diambilnya dalam hidup: ia menjadi diri sendiri. Ia menderita bersama-sama dengan Dia dan juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Pada diri orang yang melihat kemuliaan dalam jerih payah hidupnya, terdapat kualitas Allah Tritunggal. Barangkali pribadi macam itu bisa disebut sebagai manusia tritunggal: orang yang digerakkan Roh Kudus untuk menjadi diri sendiri dalam jerih payah kerjanya bersama Kristus untuk berziarah menuju Allah.

Jadi, ada Allah Tritunggal, tetapi juga sebetulnya ada manusia Tritunggal. Ini sebetulnya menunjuk kenyataan misteri yang sama, tetapi dengan sudut pandang berbeda. Allah Tritunggal menunjuk gerak Allah yang mewahyukan Diri dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Manusia Tritunggal menunjuk gerak manusia yang didorong Roh Kudus bersama Yesus Kristus berjerih payah berziarah menuju Allah Bapa. Seperti apa itu manusia Tritunggal?

Minggu lalu saya di jalan melihat tukang sayur dan spontan saya bertanya: itu orang untungnya berapa sih, dapet duit apa ya cukup untuk bayar sekolah anaknya, nyicil rumah, dan lain sebagainya? Kenek saya berkomentar, “Ya, kebanyakan orang seperti itu kerja bukan pertama-tama untuk cari untung. Mereka bekerja untuk mewujudkan dorongan untuk memaknai hidup dengan aktivitas.”
Hmmm… betul juga ya. Bukankah azas dan dasar hidup manusia itu memang kata kerja? Orang kecil itu bekerja bukan untuk mengumpulkan modal ala kapitalis dan mereka tidak sibuk membandingkan hasil kerjanya dengan orang lain yang hidupnya tampak lebih mudah, nyaman, menyenangkan, dan sebagainya. Manusia Tritunggal berjerih payah bukan untuk memenuhi ambisi konsumerisme yang didukung oleh beberapa motivator, melainkan untuk mewujudkan identitasnya sebagai anak Allah dengan dukungan konkret Roh Kudus: orang mesti memilih tindakan, pekerjaan, lifestyle, dan sebagainya.

Alkisah di neraka berdiri tiga pria, Jula, Juli, dan Pop (Guardiela) yang menanti hukuman final. Ada tiga pintu yang masih tertutup. Pintu pertama terbuka dan muncullah perempuan yang buruk rupanya dan terdengar suara “Hai, Jula, dosamu banyak sekali, masuklah dalam penderitaan kekal bersama perempuan ini.” Jula berteriak meronta tapi malaikat pembantu Lusifer menjebloskannya ke dalam. Pintu kedua terbuka dan muncul perempuan yang lebih menyerupai monster dan Juli sudah berteriak meronta. “Hai, Juli, dosamu lebih banyak. Masuklah dalam penderitaan kekal bersama perempuan monster ini.” Pop semakin mual dengan penampilan dua perempuan yang mengerikan itu segera memalingkan muka ketika pintu ketiga terbuka. Ia menunggu suara dari dalam, tapi tak muncul-muncul juga. Pelan-pelan ia melirik ke pintu dan betapa terkejutnya ternyata yang ada di pintu itu adalah perempuan cantik mirip Nike Ardilla atau Raisa gitu deh. Ia melompat kegirangan. Melihat urutan laki-laki yang masuk tadi, pantaslah ia mendapat jatah masuk neraka bersama perempuan cantik ini. Lalu terdengar suara dari dalam, “Hai, gadis cantik, dosamu banyak sekali, kamu harus tinggal bersama laki-laki paling jelek ini selama-lamanya.”

Manusia Tritunggal: orang yang digerakkan oleh Roh untuk menjadi diri sendiri dalam jerih payah kerjanya bersama Kristus untuk berziarah menuju Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s