Apa Upahnya?

Kemarin dikisahkan seorang pemuda kaya yang dengan modal ketaatan terhadap seluruh hukum agama datang kepada Yesus dan bertanya mesti gimana lagi supaya bisa memperoleh hidup kekal. Pertanyaan itu sendiri sudah memuat pengakuan bahwa hidup kekal rupanya tak bisa diperoleh semata dengan memenuhi hukum agama. Hukum agama menata aspek horisontal untuk memberi kondisi supaya pengikut agama bisa mengakses relasi vertikal, relasi personal dengan Tuhan. Hukum agama senantiasa menjadi suatu necessary condition dan tak pernah pada dirinya jadi sufficient condition.

Apa yang membuat hukum agama menjadi sufficient condition? Kitab Sirakh memberi indikasi: jika hukum itu dituruti dengan roh yang baik dan benar. Apa tolok ukurnya? Dalam bacaan Injil kemarin ditunjukkan Yesus: menjual harta milik lalu mengikuti Yesus. Pemuda kaya mundur teratur karena kelekatannya terhadap kekayaan. Kekayaan tentu tidak identik dengan kepemilikan uang, tetapi juga aneka macam potensi atau kemampuan orang.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan pergumulan batin para murid yang, tidak seperti pemuda kaya itu, telah meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus. Petrus menginginkan tanggapan dan pengorbanan para murid ini diperhatikan. Dengan rumus pertanyaan lain: apakah menjual harta milik dan mengikuti Yesus itu merupakan sufficient condition? Kalau ya, apa buahnya? Hidup kekal macam apa yang mereka peroleh? Yesus memberi jaminan: saat ini (baca: kairos alias quality time) juga mereka mendapat lebih banyak daripada apa pun yang ditinggalkannya dan kelak pun beroleh hidup kekal.

Ilustrasi saja. Orang bisa menempuh prosedur legal supaya hak kekayaan intelektualnya tak diklaim orang lain. Akan tetapi, akan terlihat kualitas pengikut Kristus pada saat hak intelektual itu memang dilanggar orang lain: ia prihatin bukan karena haknya direnggut (paradigma kelekatan), melainkan karena orang (yang membajak karyanya) tidak menjadi dirinya sendiri (paradigma kebebasan) [dan sebagai dampaknya ia kehilangan nafkah]! Begitulah fungsi hukum, menjaga koridor supaya setiap orang memperoleh hak dan kewajibannya. Akan tetapi, masing-masing pribadi mesti menemukan roh dari hukum itu supaya tak jatuh pada kelekatan bahkan terhadap hukum karena biar bagaimanapun, hukum adalah sarana, dan bukan tujuan pada dirinya. Kalau hukum jadi tujuan pada dirinya, runyam deh. Urusan liturgi pun bisa jadi perkara besar mengalahkan soal kualitas relasi pribadi orang dengan Kristus sendiri.


SELASA MASA BIASA VIII B/1
Pesta Wajib St. Filipus Neri
26 Mei 2015

Sir 35,1-12
Mrk 10,28-31

Selasa Biasa VIII A/1 Tahun Lalu: Sense of Security
Pesta Wajib St. Filipus Neri: Beriman tapi Gembira…

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s