OTW: Oke Tobat Wae…

Ekaristi Kaum Muda – Stella Duce

13 September 2013 Gereja Kotabaru

Luk 15,11-32

Dari visualisasi anak Stece tadi, siapakah yang sepantasnya bertobat? (Seorang anak dari desa yang menyalahgunakan uang sekolah untuk menunjukkan kepada teman-temannya bahwa dia anak orang kaya, padahal ibunya yang sederhana itu bersusah payah bekerja.)

Dari bacaan Injil hari ini, siapakah yang seharusnya bertobat? Anak bungsu atau anak sulung? [Dua-duanyaaaaa….] Baik, dua-duanya. Kenapa anak bungsu mesti bertobat? Ia bertobat dari kesalahan apa? [kurang ajar terhadap bapanya, foya-foya menghamburkan uang…] Oke, itu anak bungsu. Anak sulung? Dia mesti bertobat dari apa? Dia tidak foya-foya, dia tetap bekerja pada ayahnya. Apa kesalahan dia? [marah pada adiknya, iri…]

Baik, Teman-teman, sekarang kalau ada anak yang tidak seperti anak bungsu yang foya-foya, tetapi juga tidak marah dan iri hati seperti anak sulung itu, dia mesti bertobat dari apa? Kita ingat kisah orang muda kaya yang datang kepada Yesus dan bertanya soal apa yang perlu dia buat untuk masuk ke kerajaan Allah. Yesus mengatakan kepadanya supaya ia menuruti perintah Allah. Ternyata, orang muda kaya itu katanya sudah menuruti semua perintah Allah (Mat 19,16-22).

Nah, kalau ada anak yang ternyata seperti pemuda kaya itu, sudah menuruti semua perintah Allah, untuk apa lagi dia bertobat? Mau bertobat dari apa coba, wong semua perintah Allah tidak dilanggarnya? Mau bertobat dari apa kalau kita tidak melanggar hukum Gereja dan sudah menuruti semua perintah Gereja?

Mari kita bayangkan drama kisah ‘anak yang hilang’ ini. Khususnya ketika si sulung berdiri di depan pintu ruangan pesta dan bapanya menemui dia di sana, mengajaknya masuk. Anak sulung ini dalam situasi jengkel, iri, marah karena adiknya yang bajingan itu dipestakan. Tetapi, dia disodori pilihan: mau masuk berpesta atau tetap tinggal di luar. Yang menyelenggarakan pesta ini adalah sang ayah, dan dia mengundang anak sulungnya juga untuk masuk.

Di situlah titik krusial pertobatan: apakah orang mau masuk dalam pesta yang diselenggarakan Allah.

Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah sebagai pesta dan Bapa mengundang semua orang ke sana. Kalau orang tidak (mau) datang ke pesta, berarti pesta Bapa tadi tidak menjadi pesta bagi semua, bukan? Dengan kata lain, si sulung bertobat kalau ia solider dengan sang ayah yang ingin berpesta dengan semua, ikut mewujudkan supaya pesta itu memang berlaku bagi semua saja.

Kalau begitu, pertobatan bukan lagi soal kapok melanggar aturan atau hukum atau bahkan perintah Allah. Pertobatan ialah soal solider dengan proyek Kerajaan Allah, solider dengan proyek keselamatan Allah. Maka dari itu, semua orang, tanpa kecuali, haruslah bertobat: membuka kemungkinan bagi siapa saja untuk mengalami pesta yang diselenggarakan Bapa, tanpa pilih kasih.

Tobat berarti solider dengan proyek Allah, yang ingin menjadi Bapa bagi semua orang, bukan hanya kelompok agama, suku, ras, status sosial tertentu. Berani tobat?

8 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s