Cinta Bukan Cica

Pernah lihat orang omong sama ikan atau anjing atau binatang lainnya dan kelihatan bahwa komunikasi mereka berfungsi? Kita mungkin tidak memahami komunikasi mereka, tetapi mereka paham. Silakan klik link video ini sebagai contohnya. Lebih runyam lagi adalah komunikasi yang disodorkan dalam bacaan pertama hari ini: Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh (Kel 19,19 ITB) Ini komunikasi macam apa, coba?! Bangsa Israel yang melihat dan mendengarnya tentu cuma menangkap suara guruh; lha piye menerjemahkan suara guruh sebagai suara Allah? Pakai temuan Morse? Pasti bukan.

Musa menerjemahkan komunikasi dengan Allah itu dan menurunkan Kitab Taurat yang akhirnya menjadi pegangan bangsa Yahudi. Pegangan itu sangat jelas dan rinci, dan sampai sekarang masih berlaku: soal perceraian, diet, makanan halal, memotong hewan, hari Sabat, dan sebagainya. Nah, sewaktu Yesus mulai pelayanan publiknya, murid-murid itu ternyata curious atas satu hal: kenapa sih Yesus seringkali mengajar dengan perumpamaan, dengan analogi, dengan metafora? Kok gak langsung aja dikatakan secara jelas dan rinci apa yang harus dilakukan si A dan si B? Kenapa gak, seperti Musa, tuliskan saja apa yang boleh dibuat dan tidak boleh dibuat oleh pengikutnya? Lagipula kenapa kepada para murid diberi pengertian, sedangkan kepada publik tidak? Katanya Allah tidak eksklusif, lha ini kok kelihatan pilih kasih?

Andaikanlah seorang ibu omong di depan dua anak,”Jangan bentak-bentak!” Kedua anak itu paham, dan jelas maksudnya. Akan tetapi, jika ibu itu berkata,”Anak baik tidak seperti Cica.” Satu anak mengerti maksudnya, yang lainnya tidak menangkap apa-apa (seperti kita) karena tidak tahu Cica itu apa, atau malah salah tangkap (menganggap Cica itu anak gak baik). Anak yang mengerti perkataan itu adalah anak kandung si ibu, yang sudah akrab dengan sepak terjang Cica. Cica adalah kucing yang setiap kali permintaannya ditolak lalu mengeong sekeras-kerasnya dan tak kan berhenti mengeong sebelum mendapat apa yang diinginkannya. Anak yang lain tidak mengerti karena baru pertama kali main ke rumah temannya itu. Bisa jadi lain hari, setelah tahu Cica, ia memahami ‘Anak baik tidak seperti Cica’ dalam arti tidak bermalas-malasan, tetapi jelas pemahaman itu meleset dari konteks pesan yang dibawa oleh si ibu itu.

Jadi, ini bukan soal pilih kasih nan eksklusif. Dengan insight dari refleksi hari kemarin, jelaslah bahwa metafora atau perumpamaan memberi ruang pencarian yang lebih luas. Hidup beriman tidak seperti membaca resep obat atau mengerti APILL dan perumpamaan adalah cara baru untuk komunikasi iman. Perumpamaan atau metafora ‘memaksa’ orang untuk berpikir, yang artinya menuntut orang beriman untuk menggunakan daya yang sudah diberikan kepadanya. Maka dari itu dikatakan: Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 13,12 ITB) Semakin orang memakai daya yang diberikan kepadanya untuk berpikir, semakin ia mendalami imannya; tetapi semakin mengandalkan resep, shortcut, aturan rinci dan jelas, semakin orang cupet imannya.

Metafora bisa jadi tidak informatif, tetapi menuntut orang untuk menemukan sesuatu. Ini cocok untuk suatu pencarian, peziarahan iman. Perumpamaan bisa mengubah sudut pandang orang untuk memahami realitas. Inilah yang diajarkan wong edan dari Nazaret itu: Kerajaan Allah bukanlah buah ketaatan hukum, datang tidak dengan tanda-tanda lahiriah, dan Kerajaan Allah itu sudah ada di antara kita (bdk. Luk 17). Buah ketaatan hukum adalah ritual (ritual doa, ritual ibadat, ritual berlalu lintas, dan sebagainya). Kerajaan Allah adalah sesuatu yang lain, yang senantiasa perlu dicari, diwujudkan, dan tidak pernah membeku dalam formalisme dan fundamentalisme (lah… nongol lagi).

Tuhan, semoga wawasanku semakin luas untuk memahami realitas bahwa Engkau hadir bersamaku saat ini dan di sini. Amin.


HARI KAMIS BIASA XVI B/1
23 Juli 2015

Kel 19,1-2.9-11.16-20b
Mat 13,10-17

Posting Tahun Lalu: Kampanye Belum Selesai Brow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s