Tak Usah Takabur

Saya pernah punya dosen yang tak pernah memberi nilai A. Sebagus-bagusnya paper mahasiswa, paling pol nilainya 79+ dan 79+++ pun tidak sama dengan 80 dan nilai A hanya dimulai dari angka 80. Jadi, teman saya yang paling brilian pun tak pernah mencapai IPK 4,00 meskipun nilai puluhan mata kuliah lainnya murni A. Saya pikir, itu baik juga untuk menyatakan pada mahasiswa supaya mereka tidak takabur alias jemawa. Biar dosennya saja yang takabur atau jemawa…..

Maria Magdalena secara tradisional dikenal sebagai perempuan yang bertobat dari dunia gelap pelacuran. Artinya, secara objektif, Maria Magdalena mengambil keputusan yang keliru. Ia dipertobatkan oleh Yesus dan kemudian mengikutinya untuk belajar menyelami misteri kehidupan ini. Itu adalah keputusan yang tepat. Akan tetapi, jelaslah bahwa mengikuti Yesus pun bukan jaminan bahwa Maria Magdalena mengerti apa yang diajarkan Yesus dan bahkan apa yang terjadi pada Yesus. Berkali-kali Yesus omong soal bahwa ia akan dibunuh lalu bangkit lagi, tetapi ketika tiba saatnya Yesus mati, Maria Magdalena mencari Yesus di makam. Ini orientasi yang keliru. Maklum, ia belum ngerti apa itu kebangkitan. Seperti orang kebanyakan, orang mati ya adanya di kuburan (belum kenal krematorium kiranya).

Pengertian Maria itu diluruskan oleh Yesus sendiri yang telah bangkit. Maria tidak mengira bahwa yang mengajaknya bicara adalah Yesus sendiri. Akhirnya sapaan Yesus menyadarkan Maria dan tahulah ia bahwa Yesus telah bangkit dan ia menemukannya. Suka citanya pasti begitu luar biasa karena ia menemukan yang dicarinya. Akan tetapi, Yesus masih mengoreksi lagi: yang kamu temukan ini bukan lagi sosok yang dulu kamu jumpai, sudah ada perbedaan status dan kamu hendaklah legowo dan tidak nggondheli kebenaran dengan konsep-konsepmu yang lalu.

Begitulah polanya: Maria mencari cinta, ia menemukan cintanya, dan justru karena cinta itu adalah kebebasan, pada saatnya ia pergi. Toh Maria tetap mencarinya, ia menemukan cintanya kembali, tetapi sudah dalam ‘level’ yang berbeda. Perbedaan ‘level’ itu berpengaruh besar terhadap pencarian Maria berikutnya: ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan bagi dia yang sudah ada dalam ‘level’ yang berbeda itu. Ini adalah konsekuensi pencarian Maria: panggilan untuk mewartakan kepada para murid lainnya mengenai perubahan status Yesus itu.

Poin pentingnya, menurut saya, ialah pencarian terus menerus (istilah lain untuk on going conversion). Maria Magdalena menangis karena bahkan jenasah Yesus pun tak ada di tempatnya, tetapi toh ia tetap mencari. Pada saat Maria kehilangan makna hidup, ia tetap mencarinya. Ada saat dalam hidup ketika semuanya tampak ancur, ambrol, kiamat (kematian, bencana, sakit, kekecewaan, pengkhianatan), pencarian makna membatalkan kehancuran yang sesungguhnya.

Pencarian makna itu tak bisa dilakukan dengan mengejar apa yang menyenangkan. Justru sebaliknya yang berlaku: apa yang tak menyenangkan, itulah yang memberi makna. Lagi, hal  yang menyenangkan memang baik, tetapi kurang memperkembangkan. Dalam arti itu, orang tak bisa tinggal diam, takabur dalam capaian-capaian yang menyenangkan.

Tuhan, berilah aku kekuatan untuk senantiasa mencari tiada henti kebenaran-Mu. Amin.


PERINGATAN WAJIB ST. MARIA MAGDALENA
(Rabu Biasa XVI B/1)
22 Juli 2015

2Kor 5,14-17
Yoh 20,1.11-18

Posting Tahun Lalu: You Need Love

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s