Good Boy, Good Girl

Anak muda mana yang tak bosan dengan aneka macam perintah dan larangan? (Jangan pulang malam-malam; jangan lupa berdoa; bangunlah lebih pagi lagi; jangan nekat naik motor; dan lain sebagainya) Anak muda yang (1) masih berorientasi jadi good boy/good girl atau (2) yang sudah bisa lepas dari cinta diri.

Good boy/good girl akan menaati sepuluh perintah/larangan Allah yang sudah sangat akrab di telinga banyak orang (jangan menyembah ilah, hormatilah ayah ibu, jangan membunuh, jangan berzinah, dan seterusnya) demi statusnya sebagai anak baik tadi. Kalau tidak begitu, dia jadi bad boy/bad girl. Baik patuh maupun mbalelo sama-sama menangkap perintah/larangan sebagai sesuatu yang berasal dari luar yang bisa dimanfaatkannya untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai good boy atau bad boy, jika dia laki-laki.

Bacaan kedua hari ini menunjukkan sesuatu yang berbeda dari status yang dikejar good boy/good girl itu. Ini adalah lanjutan wacana mengenai metafora kemarin: penjelasan perumpamaan penabur (Mat 13,3-9). Penabur itu tak memilih tanah, pokoknya menabur benih saja (berbeda dari menanam padi). Penabur itu menaburkan benih dengan harapan bisa tumbuh di mana saja. Benih itu sendiri tidak muncul atau lahir dari tanah, bukan produk alam atau spontanitas bahkan dari rasa perasaan religius! Benih datang dari atas, dari luar. Artinya, Sabda itu datang dari luar. Akan tetapi, Sabda itu masuk ke dalam tanah (yaitu hati orang) dan tumbuh subur kalau tanahnya kooperatif dengan benih tadi. Sifat kooperatif itu terletak pada kata kerja ‘mendengar’ dan ‘mengerti’.

Sebagian orang tidak ‘mendengar’ Sabda itu; yaitu mereka yang mengira bahwa Kerajaan Allah atau Surga atau level kerohanian tertinggi bisa dicapai semata dengan usaha manusia sendiri, tanpa campur tangan ‘benih’ dari luar, yaitu Sang Pencipta Kehidupan. Kelompok orang ini berusaha mencari teknik pencapaian pencerahan itu tanpa keyakinan adanya Pencipta (apalagi relasi dengan-Nya).

Sebagian lagi ‘mendengar’ Sabda itu tetapi tidak ‘mengerti’; yaitu mereka yang memiliki pengetahuan tentang Allah Pencipta tetapi tak punya relasi dengan-Nya. Kelompok orang ini kelihatan sebagai good boy/good girl (entah dari pakaiannya, entah dari frekuensi kehadirannya dalam ritual keagamaan, atau dari studi kerohaniannya) tetapi bisa jadi sedemikian kasar atau kaku terhadap praktik keagamaan.

Yang diharapkan berkembang subur tentulah mereka  yang ‘mendengar’ dan ‘mengerti’ Sabda. Sekali lagi, ini tidak menunjuk pada kelompok agama tertentu! Ini adalah mereka yang hatinya terbuka pada Sabda Allah karena punya relasi cinta dengan-Nya. Kualitas ini hanya ada pada orang-orang yang bisa lepas dari cinta diri (dan diri itu bisa berupa tempurung agama, suku, bahasa, ras, dan sebagainya) dan karena itu, upayanya untuk menangkap Sabda Allah terjadi juga dalam dialog dengan sesama yang beda tempurung. Kelompok orang ini melihat perintah/larangan agama sebagai wujud solidaritas cinta kepada Tuhan. Mereka berbeda dari good boy/good girl, tetapi juga bukan bad boy/bad girl.

Tuhan, bantulah aku supaya semakin mampu mencintai-Mu lebih dari segala yang ada di muka bumi ini. Amin.


HARI JUMAT BIASA XVI B/1
24 Juli 2015

Kel 20,1-17
Mat 13,18-23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s