Kampanye Belum Selesai Brow…

Kuasa gelap memang punya kecenderungan untuk self-defence, dan self-defence justru bisa juga berupa total-attack. Kuasa gelap yang gak tahu diri bahkan tetap saja menyerang meskipun jelas-jelas dia salah: gengsi dong mengakui kemenangan lawan, lebih baik harakiri!!!

Dalam kancah politik mungkin harakiri itu tak perlu diartikan literal, tetapi ada bentuk-bentuk kefrustrasian yang justru membunuh karakter sendiri. Black campaign yang normalnya terjadi pada saat kontestan bertanding, oleh kuasa gelap masih dipakai untuk menyerang pihak lain pasca pertandingan usai. Celakanya, kuasa gelap sering kali kurang teliti.

paro_spaBarangkali memang teguran atau kritik cenderung bersifat lugas, konkret, atau detil; sedangkan ajakan untuk kebaikan sifatnya lebih umum, lebih figuratif, lebih berupa rambu daripada hal persisnya sendiri. Ini sejalan dengan paradoks kesucian (tak ada orang suci merasa diri suci): jika kebaikan itu bisa dipastikan, pelaksanaannya bukan lagi kebaikan, melainkan semata pemenuhan ‘aturan’ dari kebaikan itu. Ini bisa jadi hanya sebuah kompulsi atau munculnya dari kewajiban, bukan dari hati  yang memancarkan kebaikan itu sendiri (Lagi-lagi ini soal sudut pandang ‘dari dalam’ dan ‘dari luar; otonom dan heteronom)

Bacaan pertama dari Kitab Yeremia menunjukkan teguran Allah terhadap bangsa Israel yang telah berselingkuh dengan dewa Baal: Para imam tidak lagi bertanya,”Di manakah TUHAN?” Orang-orang yang melaksanakan hukum tidak mengenal Aku lagi, dan para gembala mendurhaka terhadap Aku. Para nabi bernubuat demi Baal, mereka mengikuti apa yang tidak berguna (Yer 2,8). Bangsa Israel menghayati kebebasan sebagai bentuk pelepasan dari ‘hukum’ Tuhan sendiri.

Bacaan Injil menyajikan secara implisit bahwa kepada pengikut Kristus sudah diberikan kebebasan untuk menangkap dan mewujudkan Sabda Allah sendiri. Ajaran Yesus disampaikan dalam perumpamaan: supaya pendengarnya dengan bebas bisa merumuskan sendiri, memutuskan sendiri hal mana baginya yang cocok untuk dilakukan, diikuti, disebarkan, ditularkan, dst....



KAMIS BIASA XVI
24 Juli 2014

Yer 2,1-3.7-8.12-13
Mat 13,10-17

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s