Teori Permainan dan Koalisi Demokratis

Waktu gerakan mahasiswa zaman Order Baru (atau orde batu) memuncak di tahun 1998, salah satu topik wacana yang sering muncul ialah soal oposisi. Gus Dur, misalnya, setelah mundur dari jabatan presiden, mencanangkan bahwa partainya akan menjadi oposisi. Dalam panggung politik kelihatan bahwa banyak pola oposisi ditampilkan. Oposisi dianggap sebagai ikon demokrasi sehingga layak diperjuangkan. Sikap oposisi rupanya diterima sebagai sikap yang lebih kondusif untuk suatu demokrasi daripada sikap tenggang rasa atau tepa selira. Di balik pandangan itu ada asumsi bahwa demokrasi identik dengan oposisi dua partai yang berebut kekuasaan dengan prinsip winner-take-all.

Mengasyikkan sekali mengulas pola relasi partai oposisi ini dengan suatu teori yang dikenal sebagai teori permainan. Leibniz, filsuf matematika berkebangsaan Jerman memicu kemunculan teori permainan ini. Teori ini juga akhirnya dikembangkan dalam dunia ekonomi maupun politik. Salah satu penerapan teori permainan dalam dunia politik ialah pola oposisi sebagai bagian dari zero-sum games. Permainan zero-sum ini bisa diumpamakan seperti orang melakukan ‘suit’ untuk menentukan pemenang antara dua pihak. Hanya satu yang menang, yang lainnya kalah. Tidak bisa ada hasil seri.

Ada dua fenomena yang menarik dari kondisi zero-sum ini:

  1. Sikap mental partisipan berelasi positif dengan daya kohesi, solidaritas dan kesetiaan kepada kelompok luas. Partisipan dalam permainan ini bisa menerima kondisi menang kalah karena mereka adalah kelompok teman akrab. Artinya, kesetiaan dan solidaritas terhadap keseluruhan kelompok menjadi nilai utama. Mereka ini bisa saling melontarkan ejekan tanpa risiko bahwa relasi mereka rusak karena ejekan itu. Bahkan, kekalahan tidak menyebabkan orang ngambeg, regresi, atau malah memecahbelah relasi kelompok luas.
  2. Koalisi cenderung dihindari jika partisipan dimungkinkan untuk memiliki informasi lengkap. Artinya, partisipan cenderung memilih bermain tanpa koalisi dengan partisipan lain ketika informasi permainan bisa diperolehnya secara komplet: tata tertibnya, opsi langkah-langkahnya, konsekuensi pilihannya, dan sebagainya. Misalnya, catur. Tentu tidaklah nikmat bermain catur seperti main badminton partai ganda (kecuali ganda campuran, tapi itu lain soal lagi).
    Lain halnya dengan permainan Bridge. Permainan ini tidak memungkinkan satu partisipan mengetahui informasi permainan secara komplet. Kalau begitu, orang punya alasan rasional untuk membangun koalisi.

Koalisi dibentuk untuk mencapai kemenangan, tetapi konsekuensinya ialah hasil kemenangan itu tidak bisa diklaim satu partisipan dalam koalisi. Mesti ada bagi-bagi hasil dong. Nah, kalau begitu, koalisi yang dibentuk kiranya tidak akan lebih besar dari koalisi yang diperlukan untuk memastikan kemenangan. Ini yang dikenal sebagai minimum winning coalition.

Penjelasannya sederhana. Andaikanlah ada tiga partisipan A, B, dan C yang masing-masing punya kekuatan berturut-turut 21%, 30%, dan 49%. Dari sini kita peroleh tiga kemungkinan koalisi, yaitu AB (51%), AC (70%), dan BC (79%). Koalisi BC adalah koalisi dengan akumulasi kekuatan terbesar. Ini disebut maximum winning coalition. Lha, koalisi ini akan dihindari. Kenapa?

Pertama, koalisi ini membuat pertandingan sangat tak berimbang. Dalam kenyataan sehari-hari, suatu tim olah raga akan mencari sparing partner yang kurang lebih seimbang. Kekuatan tim yang sangat jauh gap-nya akan membuat permainan atau pertandingan tidak menarik; yang bermain pun cepat bosan karena pasti menangnya.

Kedua, yang lebih penting, koalisi BC kurang menguntungkan dalam  hal pembagian hasil kemenangan. Bagi B, hasil kemenangan yang dicapainya jika berkoalisi dengan C ialah 39,97% dari seluruh total taruhan. Sedangkan bagi C, hasil yang diperolehnya ialah 62,03%. Bandingkanlah jika B berkoalisi dengan A! B akan mendapat 58,82%, dan jika C menang, C mendapat 100% hasil kemenangan. Koalisi AB inilah yang disebut sebagai minimum winning coalition dan koalisi inilah yang lebih rasional untuk permainan yang bersifat zero-sum.

Dengan demikian, sejauh demokrasi dilihat sebagai permainan zero-sum, koalisi ramping jelas lebih menguntungkan daripada koalisi gemuk. Akan tetapi perlu diingat kembali bahwa kondisi zero-sum ini menarik jika yang dipertaruhkan sungguh tidak membahayakan solidaritas dan kesetiaan terhadap komunitas. Dengan kata lain, taruhannya tidak terlalu besar. Jika taruhannya terlalu besar, permainan zero-sum bisa berubah menjadi perang yang mengancam para partisipan.

Dalam kehidupan politik, kondisi zero-sum bisa diterapkan dalam masyarakat yang punya dua ciri: (1) relatif homogen dengan tingkat konsensus yang tinggi dan (2) kesejahteraan umumnya relatif terpenuhi (karena ada jaminan kepastian dan keadilan hukum). Dalam masyarakat yang demikian, permainan zero-sum tidak mengganggu hak-hak publik atau kesejahteraan bersama. Pilihan minimum winning coalition akan membuat proses politik menjadi menarik. Kekalahan dan kemenangan dalam permainan tidak akan menghancurkan kehidupan bersama karena konsensus yang telah dibangun dan jaminan kesejahteraan yang tetap dimiliki seluruh partisipan.

Memang, zero-sum bisa juga diterapkan pada masyarakat yang antagonis dengan perpecahan yang sangat ekstrem. Akan tetapi, politik seperti ini cenderung diterima sebagai perang total untuk mencapai kemenangan. Maka, pilihannya ialah politik sebagai permainan atau perang habis-habisan. Masing-masing partisipan menghendaki 100% hasil (sekurang-kurangnya sesuai dengan prinsip minimum winning coalition) atau tidak dapat hasil sama sekali.

Dorongan ini bisa dilandasi baik oleh sikap menerima proses politik sebagai sebuah permainan (menang kalah mah biasa) maupun oleh sikap perang habis-habisan. Kedua sikap ini sama-sama bermuara pada hasil kemenangan total atau kalah sama sekali. Akan tetapi, sikap pertama tidak menimbulkan perpecahan karena permusuhan yang terjadi tidak sungguhan memicu pemisahan. Sedangkan sikap kedua, karena konflik yang ekstrem, membawa perpecahan dan perpisahan kepada partisipan yang terlibat dalam konflik.

Begitulah demokrasi dalam iklim zero-sum game. Adakah alternatif bagi demokrasi sebagai permainan zero-sum ini? Ya tentu ada, tapi nanti ulasannya di halaman lain.

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s