Rasionalitas Permainan & Model Demokrasi

Realitas politik dalam masyarakat yang sangat plural bisa dilihat sebagai permainan zero-sum atau sebagai perang habis-habisan. Jika mental kesatuan bangsa sudah jadi dan tidak ada gap yang sangat mencolok, tentu zero-sum game lebih menarik diterapkan. Akan tetapi, jika ada elemen bangsa yang punya haluan ekstrem (fundamentalis misalnya) bermain di situ, apalagi masih ada kesenjangan kuat antar segmen, permainan itu bisa berubah menjadi perang habis-habisan.

Tidak mengherankan, NKRI tidak dibangun dalam nuansa permainan zero-sum. Para founding fathers jelas lebih menyodorkan iklim gotong royong daripada nuansa adversarial (konflik, pertentangan, perlawanan, oposisi). Ini tentu ada rasionalitasnya. Apa itu?

Dalam masyarakat majemuk, sangat dimungkinkan kurang lengkapnya informasi permainan (partisipan tidak punya akses penuh mengenai kultur, bahasa, tradisi, ras, atau agama lainnya, termasuk variabel perubahan jika unsur-unsur itu bertemu). Dengan contoh tiga partisipan A (21%), B (30%), dan C (49%) bisa dipahami dorongan berkoalisi sangat kuat jika ingin memastikan kemenangan. C tidak sangat ingin terjadi koalisi AB sehingga berupaya berkoalisi dengan salah satu sementara A bisa berkoalisi dengan B maupun C dan sebaliknya, B pun bisa berkoalisi dengan A maupun C. Nah, karena kondisi zero-sum tidak menguntungkan, ketiga partisipan lebih bisa menerima hasil proporsional daripada tidak mendapatkan hasil sama sekali.

Hasil proporsional inilah yang secara rasional disasar oleh minimum winning coalition. A, B, dan C berkoalisi dengan perolehan hasil masing-masing 21%, 30%, dan 49%. Tidak ada partisipan yang akan merasa dirugikan karena mendapatkan hasil sesuai dengan proporsi yang dimilikinya. Inilah yang disebut sebagai koalisi besar, yang menurut Arend Lijphart, pakar demokrasi dalam masyarakat majemuk, adalah koalisi terbaik. Koalisi besar ini senafas dengan ide gotong royong yang dikumandangkan oleh para bapak pendiri bangsa ini.

Akan tetapi, ketika ditanyakan kepadanya mengapa Indonesia tidak juga menikmati iklim demokratis baik pada masa Orde Baru maupun reformasi padahal seluruh struktur memenuhi syarat yang disodorkan Arend Lijphart, ia menjawab: at least in principle, there are no deep differences that cannot be resolved if the leaders of the antagonistic groups are committed to solving them and if, for this purpose, they agree to work together in “grand coalitions” instead of opposing and blocking each other’s efforts. There are no guarantees that this will work, but I think that there is always a possibility, and that the probability of something good coming out of this is much higher than the probability of good results from continuing lack of cooperation.

Dengan kata lain, koalisi besar yang disodorkan Arend Lijphart sangat mengandaikan sikap kooperatif (bukan hegemonik!) para elit politik. Sikap elit politik inilah yang menentukan model demokrasi yang bisa diperluas menjadi empat: konsosiasional (konsensus), sentrifugal, sentripetal, dan depoliticized.

model demokrasi

Semakin kooperatif elit politik dalam masyarakat majemuk, semakin cocoklah demokrasi konsosiasional, mengatasi potensi sentrifugal. Model demokrasi ini lebih menarik daripada model demokrasi sentrifugal. Perilaku adversarial dalam masyarakat majemuk menggiring demokrasi ke ajang perang lebih daripada permainan. Kondisi begini mendorong segmen untuk melakukan separasi atau pemisahan dari kedaulatan negara. Itu mengapa disebut sebagai demokrasi sentrifugal: potensi lari memisahkan dirinya lebih besar daripada potensi merekatkan diri dengan pusat kedaulatan.

Sebaliknya, dalam masyarakat homogen, semakin kooperatif sikap elit politik, justru semakin tak menarik proses politik demokratisnya. Lha mau apa, wong ikatan primordialnya sudah kuat ditambah lagi kerja sama tanpa oposisi. Apa yang diputuskan elit politik dari manapun tak akan ditentang oleh elit politik lainnya. Mangan ora mangan sing penting kumpul deh; ini sih paguyuban, bukan lembaga politik. Biar lebih menarik sebagai demokrasi, dalam masyarakat homogen justru elit politiknya wajib beroposisi, tanpa khawatir pisah karena ikatan primordialnya sudah sedemikian kuat. Sikap adversarial ini malah bisa memacu kemajuan.

Indonesia ini rasa-rasanya bermasyarakat majemuk; saking majemuknya bahkan ada kelompok yang menyangkal Pancasila sebagai dasar negara. Kelompok seperti ini secara teoretis tidak bisa dimasukkan dalam permainan (de facto dijadikan komoditi untuk permainan) karena menyangkal raison d’être permainan. Akan tetapi, bisa jadi kelompok seperti ini berkamuflase dalam segmen yang beroposisi dan cenderung seolah hendak mendirikan negara sendiri: dengan presiden sendiri, angkatan perang sendiri, televisi sendiri, media sendiri, demokrasi sendiri, keadilan sendiri, semuanya sendiri deh, pokoknya benar sendiri.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s