Bahayanya Mukjizat…

Ada orang-orang yang, entah karena gengsi atau ragu-ragu, tak pernah mau minta tolong, malah bisa jadi memerintah orang lain (meskipun memakai kata ‘tolong’). Orang kusta yang berjumpa dengan Yesus pada bacaan hari ini jelas tidak meminta pertolongan. Ia menyatakan bahwa Yesus bisa menyembuhkan dia dengan kalimat kondisional: kalau engkau mau. Artinya, orang kusta ini percaya bahwa Yesus memang bisa menyembuhkan dia seperti sudah dilakukan terhadap orang kusta lainnya. Tapi, ia gak yakin bahwa Yesus mau melakukannya. Ternyata, Yesus mau melakukannya dan orang kusta itu sembuh.

Akan tetapi, mengapa kemudian Yesus memberi peringatan keras supaya orang itu tidak bilang-bilang kepada orang selain imam di tempat ibadat? Apakah ia gak mau menyembuhkan orang-orang sakit lainnya? Tentu bukan itu alasannya. Apakah ia takut pada penderitaan yang menghantuinya? Bukan, ini masih terlalu awal, belum ada ancaman ke arah sana. Lalu, kenapa ia terkesan menghindari popularitasnya sendiri?

Problemnya tidak terletak pada popularitas, tetapi pada sikap orang terhadap sosok yang populer itu. Berbondong-bondong orang mencari Yesus sehingga malah Yesus tidak bisa masuk ke dalam kota secara terang-terangan. Begitu ia masuk lewat pintu yang satu dan orang mengetahuinya, jalanan tentu menjadi penuh sesak orang dan Yesus tak bisa bergerak. Maka Yesus memilih tempat-tempat yang sunyi. Itu pun tak menyelesaikan problem: orang banyak terus mencari dia.

Jauh sebelum ada penelitian mengenai budaya pop, Yesus mengerti bahwa popularitas mukjizat (kesembuhan) memuat aneka ambiguitas. Mukjizat memang sensasional, tetapi tidak otomatis membawa orang pada pertobatan, malah bisa menjerumuskan orang pada kesombongan rohani: aku tahu betul apa yang kubutuhkan dan Tuhan pasti bisa membuat mukjizat bagiku!

Demikianlah, orang bisa merasa paling tahu soal apa kebutuhannya, lalu merengek-rengek pada Tuhan apa yang sebetulnya bukan kebutuhannya, melainkan keinginan egoistik belaka: ingin sembuh dari sakit, ingin pacar, ingin gaji tinggi, ingin rumah mewah, ingin terkenal, ingin hadiah mobil mewah dan lain sebagainya. Masih ingat iklan “Kutahu yang (a)ku mau”? Orang yang terus menanamkan slogan itu dalam dirinya bisa lupa akan kebutuhan terdalamnya dan tertipu oleh aneka keinginan yang diombang-ambingkan oleh mode, gadget, popularitas, dan kroni-kroninya.


KAMIS BIASA I B/1
15 Januari 2015

Ibr 3,7-14
Mrk 1,40-45

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s