Doa Yang Menyentuh Hati

Seringkali orang gegabah menyamakan hati dengan perasaan. Orang mengira sentuhan hati adalah sentuhan perasaan. Maka, orang mengira doa yang menyentuh hati adalah doa yang menyentuh perasaan positif: damai, tenang, bahagia, haru. Ada betulnya, tetapi bukan segala-galanya. Pertama, karena perasaan tidak selalu positif. Ada juga perasaan jengkel, marah, khawatir, dan sebagainya. Kedua, yang disebut hati kiranya jauh lebih luas daripada perasaan. Dalam hati itu termaktub juga imajinasi, kehendak, dan kemerdekaan orang untuk mewujudkan diri idealnya dalam hidup sehari-hari.

Karena itu, tak banyak gunanya mencari-cari rumusan atau model doa yang semata memuaskan sentimennya: mencari rasa aman, rasa tenang, nyaman, dan sejenisnya. Doa hati (bagaimanapun mau disebutnya) tak pernah bisa direduksi sebagai doa mengumbar perasaan. Doa hati justru doa komplet yang menyentuh seluruh eksistensi orang: rasionalitas, imajinasi, kehendak, kebebasan.

Bacaan pertama menunjukkan model bagi umat beriman: Yesus Kristus sudah terlebih dulu mengalami penderitaan karena godaan dan ancaman dosa, karena itu Dia bisa menolong mereka yang dicobai. Gimana caranya? Bacaan Injil mengindikasikannya dengan doa dan penyembuhan yang dilakukan Yesus. Pertama, mertua Petrus yang disembuhkan tidak tinggal dalam euforia. Ia tidak happy-happy doang dengan kesembuhannya, tetapi melayani orang lain. Arahnya ialah pelayanan sebagai wujud syukur atas kesembuhannya.

Kedua, semakin banyak orang datang untuk minta kesembuhan. Entah sampai jam berapa Yesus melayani orang banyak, pokoknya pagi-pagi benar ia nyepi dan berdoa. Murid-murid menyusul dan memberi info betapa populernya Dia dan semua orang mencari-Nya. Apa yang dikatakan-Nya? Buah doa dari nyepi tadi: ke tempat lain aja yuk! Arahnya ialah keluasan medan pelayanan.

Jadi, doa yang menyentuh hati berarti doa yang membuka cakrawala menjadi lebih luas dalam segala dimensinya: pelayanan kepada semakin banyak orang. Maka, keputusan yang diambil dengan doa seyogyanya diukur dengan patokan ini: apakah keputusan yang kuambil itu memenuhi trend pelayanan kepada semakin banyak orang, atau cuma melayani perasaan-perasaanku sendiri.


RABU BIASA I B/1
14 Januari 2015

Ibr 2,14-18
Mrk 1,29-39

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s