Percaya atau Lihat Dulu?

Dalam pertemuan dengan tim dokter untuk memutuskan perlunya operasi terhadap salah seorang sahabat, ada hal yang mengesankan bagi saya. Aneka istilah teknis kedokteran tidak saya mengerti, tetapi saya sadar bahwa peluang operasi terhadap sahabat saya ini fifty-fifty karena keadaan fisiknya yang sangat complicated. Baik dioperasi maupun tidak, keadaannya akan sangat genting: antara hidup dan mati. Salah satu soal besar berkenaan dengan daya tahan tubuhnya terhadap anestesi yang perlu dilakukan demi operasinya sendiri.

Yang mengesankan saya ialah bahwa dalam keadaan genting dan komitmen tinggi tim dokter itu, seorang dokter menyampaikan permohonan mereka (yang jelas-jelas adalah profesional di bidang masing-masing) supaya kami sahabatnya berdoa untuk kinerja para dokter juga, bukan hanya untuk pasien.

*****

Untuk kedua kalinya Yesus datang ke Kana di wilayah Galilea, ke tempat ia dulu membuat mukjizat sewaktu ada pesta perkawinan. Kembalinya Yesus tentu memicu gosip yang mengingatkan warga pada mukjizat yang pernah dibuatnya; mukjizat itu sendiri tidak semerta-merta mengubah penghayatan iman orang-orang di Galilea (memang begitulah jeleknya mukjizat: bisa ditangkap sebagai tontonan belaka). Pegawai istana yang datang kepada Yesus kali ini rupanya termasuk orang yang pelan-pelan masuk dalam dinamika iman: bukan melihat dulu baru percaya, melainkan percaya sehingga bisa melihat kebenaran.

Dalam situasi anaknya yang sudah sekarat, pegawai istana itu mendesak Yesus supaya pergi ke rumahnya. Barangkali sewaktu ia berjumpa dengan Yesus itu, dalam kalkulasinya anaknya sudah mati, dan tampaknya begitulah yang terjadi (karena sewaktu pulang, ia dikabari bahwa anaknya hidup). Tetapi karena Yesus mengatakan bahwa anaknya hidup, akhirnya ia pulang dan mendapati anaknya memang hidup. Tak ada whatsapp dan media sosial waktu itu sehingga berita baru diterima sehari setelah kejadian.

Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (kuasa Allah) dan kepercayaannya itu menuntun akal budinya untuk memahami kenyataan hidup secara lebih utuh.


HARI SENIN PRAPASKA IV
16 Maret 2015

Yes 65,17-21
Yoh 4,43-54

Posting Tahun Lalu: Dictum Factum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s