Dictum Factum

SENIN PRAPASKA IV

Yes 65,17-21
Aku menciptakan langit dan bumi yang baru, hal-hal dahulu takkan diingat lagi, dan takkan datang lagi dalam hati… bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selamanya atas apa yang sedang Kuciptakan… tak akan kedengaran lagi bunyi tangis dan erangan… Di situ tak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tak mencapai umur yang penuh

Yoh 4,43-54
Di Kapernaum ada seorang pegawai istana yang anaknya sedang sakit… pergilah ia kepada Yesus lalu meminta supaya Ia datang menyembuhkan anaknya yang hampir mati…. “Pergilah, anakmu hidup!” Ketika di tengah jalan, hambanya telah datang dengan kabar bahwa anaknya hidup… ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya.


Baru kemarin disodorkan penyembuhan oleh Yesus yang terjadinya bertahap, hari ini disisipkan kisah penyembuhan yang menunjukkan kekuatannya: dictum factum, begitu dia omong, saat itu juga omongannya terjadi! Tidak ada tahapan, tidak ada proses, tidak ada waktu antara, tak terbatasi oleh aneka kerangka pikir manusia. Metodenya pun tak mengikuti pakem kerja yang sudah-sudah.

Pegawai istana tentunya memiliki dokter sendiri dan rupanya dokter itu sudah angkat tangan dan anak pegawai istana itu sudah begitu kritis. Si pegawai istana sebenarnya sudah memiliki modal kepercayaan kepada Yesus yang datang lagi ke daerahnya, dan ia mendengar banyak mengenai mukjizat yang dilakukan Kristus. Maka datanglah ia kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Akan tetapi, Yesus ngerjain dia dulu sebelum menyembuhkan anak itu. Bagaimana?

Yesus menyodorkan catatan bagi pegawai istana itu (untuk tidak mengatakan menyampaikan kritik), yang percaya semata karena mendengar aneka mukjizat. Mereka yang cuma percaya karena mukjizat, dan bukan warta kenabian yang disodorkan penyembuh, malah bisa dibilang sebagai orang yang tak percaya kepada kekuatan Allah! Pegawai ini rupanya mirip seperti Naaman yang tak bisa melihat kemungkinan baru suatu penyembuhan. Ia percaya Yesus bisa menyembuhkan anaknya, tetapi tidak dari jauh. Barangkali ia juga begitu galau bin gundah nan takut karena anaknya kritis sehingga mesti mengatakan “sebelum anakku terlanjur mati”. Ia lupa bahwa nabi Elia dan Elisa membangkitkan orang mati, dan yang dia minta ini lebih besar dari dua nabi itu.

Kritik Yesus itu mengajak pegawai istana untuk melihat kelemahannya dalam percaya; supaya ia sendiri siap menerima penyembuhan sebagai semata rahmat kekuatan Allah, dan bukannya skenario buatan manusia, manusia yang selalu memberi jarak antara dictum dan factum. Omongnya A kelakuannya B… ayo tobat wae…

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s