Wilt Thou be Made Whole?

SELASA PRAPASKA IV

Yeh 47,1-9.12
Bagian penglihatan nabi Yehezkiel ini tak bisa ditangkap secara literal. Penglihatan ini menunjukkan air yang suci: kemunculannya (dari Bait Allah di Yerusalem), keluasannya, kedalamannya, kekuatan penyembuhan dan kehidupan yang disokongnya.

Yoh 5,1-16
Injil Yohanes ini mengisahkan penyembuhan orang yang telah 38 tahun menderita kelumpuhan di tepi kolam Betesda, di Yerusalem. Airnya pada saat-saat tertentu bergolak dan siapa pun yang untuk pertama kalinya masuk ke dalam kolam itu, apa pun penyakit yang dideritanya akan hilang.


Bacaan pertama dan bacaan Injil hari ini terhubung oleh air yang memiliki kekuatan penyembuhan. Keduanya menyinggung juga Yerusalem sebagai tempat kejadian: Yerusalem menjadi titik awal keselamatan yang memancar seluas-luasnya ke penjuru dunia karena Kristus di sana. Yesus memberi pemaknaan baru terhadap hari Sabat karena kemurahan hatinya terjadi pada hari Sabat (sebagaimana ia kelak menjadi korban pada hari Sabat).

Menarik bahwa kemurahan hati Yesus di Betesda ditujukannya kepada orang yang senior di pinggir kolam itu: senior dalam mengeluh! Pikirannya cupet, cuma pikir kesembuhannya dengan air kolam itu (seolah tak ada cara lain); itu pun dengan pengandaian ada orang lain yang menceburkannya ke sana dan ia menyalahkan situasi bahwa ia tak punya teman dan gak ada pula orang di situ yang pikir bahwa sakitnya jauh lebih parah (karena sudah senior itu) sehingga mereka mau memberinya kesempatan dahulu untuk masuk kolam. Kemurahan hati Allah tampak arbitrer, tapi rupanya ada logikanya juga: dalam situasi masyarakat egoistik, pastilah ada pihak yang masuk dalam keterpurukan dan keputusasaan.

Akan tetapi, kisah penyembuhan hari ini menimbulkan respon yang berbeda dari kisah penyembuhan yang kita dengar hari Minggu kemarin. Pada hari Minggu lalu, si buta secara bertahap mendeklarasikan Yesus sebagai nabi dan Anak Manusia. Sekarang ini, si lumpuh malah jadi mata-mata bagi petinggi-petinggi Yahudi. Padahal, Yesus sudah mewanti-wanti dia seperti wanti-wanti terhadap perempuan yang tertangkap berzinah: pergi dan jangan berbuat dosa lagi. Wanti-wanti yang masuk akal sebagaimana dirumuskan dalam pedoman St. Ignatius: kalau kamu dalam euforia, ingatlah saat-saat sulitmu; bukan supaya kegembiraanmu berkurang, melainkan supaya kamu be made whole. Banyak orang bikin resolusi sewaktu minta disembuhkan, doa ini itu dengan janji ini itu (mirip dengan caleg-caleg yang sakit), dan setelah sembuh… orang kembali lagi pikir melulu dirinya sendiri…. that’s lifetapi bukan hidup dengan makna Sabat yang baru.

 

 

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s