Stay focused

RABU PRAPASKA IV

Yes 49,8-15
Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau sebagai perjanjian bagi umat manusia…untuk mengatakan kepada orang-orang yang terpenjara: keluarlah; dan kepada orang-orang yang ada dalam kegelapan: tunjukkanlah dirimu… Bersorak-sorailah, hai langit, bergembiralah hai bumi… Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya…sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

Yoh 5,17-30
Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja…Seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan memberinya hidup, begitu juga Anak menghidupkan mereka yang dikehendaki-Nya…Bapa tidak menghakimi siapapun, tetapi telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Putera.. Barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia memiliki hidup yang kekal


Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan bacaan yang disodorkan kemarin; yang disajikan kemarin adalah tindakan Yesus, yang sekarang adalah penjelasan-Nya atas tuduhan sebagai spesialis pelanggar hukum Sabat. Pada kesempatan lain Ia menyatakan bahwa manusia bukan untuk hukum Sabat, melainkan hukum Sabat untuk manusia (Mrk 2,27) atau Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mat 12,8). Secara filosofis hal itu bisa dijelaskan sebagai formalisme yang justru memenjarakan manusia. Lha iyalah, bisa ditilik anekdot Tony de Mello mengenai kucing yang diikat supaya liturgi menjadi sah.

Di sini, Yesus memperluas ajarannya dengan argumentasi teologis: lha Bapaku itu bekerja sampai sekarang ini je, apa iya anak-Nya ongkang-ongkang? Yesus mengidentifikasikan dirinya sebagai anak Allah yang bekerja bersama Bapanya. Maka dari itu, si anak mestinya taat kepada kehendak Bapanya. Apa reaksi orang-orang Yahudi? Mereka semakin membenci Yesus, dan ini sudah diprediksi pada satu ayat sebelum bacaan pertama hari ini (Yes 49,7).

Tetapi Tuhan itu memang begitu sifatnya: Ia mampu membuat batu yang dibuang tukang bangunan menjadi batu penjuru (Mat 21,42), dan buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya (Mat 12,20a)….sejauh sang manusia menempatkan dirinya seperti Kristus sendiri: aku gak bisa berbuat apa-apa dari diriku sendiri…sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.

Omong bahwa sedang mengerjakan kehendak Bapa itu sepele, kecil, sipil, gampang dan romantis sekali, tetapi itu untuk penghayat kesucian yang naif. Kristus tidak menghayati kesuciannya sebagai kesucian pribadi, tetapi Ia sungguh mau membangun kesucian bersama, yaitu ketika kehendak Allah terlaksana: merajai hati seluruh bangsa manusia. Fokus Kristus bukan melanggar hukum Sabat, melainkan melaksanakan kehendak Allah, dengan demikian juga Ia menjadi jembatan, pengantara Allah dan manusia, dan ini adalah skandal bagi manusia yang fokusnya aturan dan hukum.

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s