Kucing Anjing Kelinci

Ini contekan dari Burung Berkicau tulisan Anthony de Mello (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1994):
Setiap kali guru siap untuk melakukan ibadat malam, kucing asrama mengeong-ngeong sehingga mengganggu orang yang sedang berdoa. Maka, sang guru menyuruh supaya kucing itu diikat selama ibadat malam.
Lama sesudah guru meninggal, kucing itu masih tetap diikat selama ibadat malam dan setelah kucing itu mati, dibawalah kucing baru ke asrama supaya dapat diikat sebagaimana biasa terjadi selama ibadat malam.

Berabad-abad kemudian kitab-kitab tafsir penuh dengan tulisan ilmiah murid-murid sang guru mengenai peran penting seekor kucing dalam ibadat yang diatur sebagaimana mestinya.

Ada perbedaan nasib antara kucing pertama dan kucing terakhir meskipun keduanya sama-sama diikat. Yang pertama diikat karena dianggap mengganggu ibadat. Yang kedua diikat karena dianggap penting dalam ibadat. Horotoyoh, bagaimana bisa terjadi diskrepansi nasib kucing itu?
Saya kutipkan cerita dari buku lainnya:
Seekor anjing yang melihat kelinci segera menggonggong dan mengejar kelinci itu. Sedemikian lincahnya dan kuatnya kelinci itu sehingga ia bisa memancing anjing itu keluar desa. Sesampainya di desa lain, karena mendengar gonggongan anjing, anjing di desa itu ikut menggonggong dan ia melihat kelinci dikejar anjing, lalu ia ikut mengejar kelinci itu. Begitu seterusnya sampai kelinci itu memancing sekitar sepuluh anjing. Pawai itu terus berlangsung. Sampai di sebuah desa, gonggongan anjing menyebabkan anjing-anjing di desa itu otomatis menggonggong dan ikut berlari di belakang anjing-anjing itu. Makin lama, deretan anjing semakin panjang sehingga tidak semua anjing bisa melihat kelinci itu. Akhirnya, anjing yang berada di urutan terakhir, yang tidak melihat kelinci itu, bosan sendiri dengan kebinatangannya: otomatis lari tanpa tahu juntrungannya. Satu per satu anjing yang tidak melihat kelinci itu mengundurkan diri.

Kembali lagi ke cerita kucing tadi, diskrepansi nasib kucing pertama dan terakhir terjadi karena para murid sang guru di kemudian hari tidak melihat ‘kelinci’, tidak melihat motif sesungguhnya dari ikatan kucing sehingga malah menganggapnya sebagai bagian penting dari ibadat. Celakanya, itulah yang terjadi pada agama, apa pun agamanya, yang disebut sebagai formalisme. Apa sih salahnya formalisme kok Romo sebegitu sewotnya? Ya bukan sewot sih, prihatin aja karena itu adalah salah satu wujud hoaks: menganggap yang formal sebagai materi sesungguhnya, seakan-akan itulah hakikat iman/agama. Mengerikan, bukan, indoktrinasi agama? Tak usah jauh-jauh ke terorisme yang memanfaatkan agama. Kalau agama bisa dimanfaatkan oleh terorisme, itu artinya memang dalam struktur agama benih hoaks itu sudah ada.

Seperti sudah saya singgung dalam posting sebelumnya, pesta bertobatnya S. Paulus yang dirayakan Gereja Katolik sama sekali bukan perayaan kemenangan tribalisme. Bukan Paulusnya yang penting, bukan pula agamanya, melainkan pertobatannya, dan kalau orang sungguh mau tahu apa itu pertobatan, ia mesti mengenal Sosok yang mempertobatkannya, yaitu Allah sendiri. Runyamnya, Allah tak mungkin dikenal dengan satu perspektif yang kental dengan kebenaran monolitik: hanya akulah yang benar, hanya rumusankulah yang murni, hanya agamakulah yang praktiknya bersih, dan seterusnya.

Tuhan, mohon rahmat kedalaman hidup supaya kami semakin menghidupi pertobatan sejati. Amin.


PESTA BERTOBATNYA S. PAULUS
Jumat Biasa II C/1
25 Januari 2019

Kis 22,3-16
Mrk
16,15-18

Posting Tahun 2018: Perlu Refill Hidayah
Posting Tahun 2017: Adakah Agama Kafir?

Posting Tahun 2016: Jangan Mengobjekkan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s