What Do You Mean by ‘Conversion’?

Kalau orang berkutat hanya dengan hukum (moral), ia akan sibuk dengan soal benar-salah. Jika orang terobsesi dengan perintah agama sebagai tolok ukur hidupnya, hatinya akan dikontrol oleh pertanyaan boleh-tidaknya ia berbuat sesuatu. Dalam obrolan yang terkesan rohani, ia bicara soal mana dosa dan mana bukan dosa: apakah makan buah dari altar itu dosa, apakah menginjak kitab suci itu dosa, berdosakah orang terangsang melihat paha pengendara motor, dan seterusnya.

Wacana dosa itu ujung-ujungnya adalah perdebatan mengenai kriteria atas rumusan yang dibuat manusia sendiri. Maka, sebenarnya diskusi mengenai dosa tidaklah relevan, pun tidak cocok dengan penghayatan hidup umat beriman yang bisa dipertanggungjawabkan. Tambah lagi, fokus pada dosa justru tidak kondusif bagi misteri kebangkitan, inti iman kristen. Ini adalah sudut pandang ‘dari luar’ yang membuat pribadi seseorang menjadi heteronom, bergantung pada unsur-unsur luar dirinya, tidak bergerak dari dalam ke luar. Lebih baik omong soal tobat.

Saya bagikan apa yang pernah saya peroleh dari sebuah retret (abb. Rm. Bernhard Kieser SJ) yang bertitik tolak dari teks Injil Lukas. Mengapa Injil Lukas? Karena di sini dibicarakan tobat sekaligus pengampunan, yang tidak ada dalam tulisan Perjanjian Baru lainnya. Ada empat hal yang bisa kita bahas di sini (silakan klik masing-masing pokok untuk detilnya):

  1. Titik tolak tobat: Injil Lukas 5,27-32; 15,11-32
  2. Tujuan tobat: Semua bisa ikutan pesta
  3. Inti tobat: Kebangkitan Kristus terealisasi
  4. Pelaksanaan tobat: pengenangan kebangkitan itu

Dengan pokok-pokok mengenai tobat itulah kita justru bisa memahami apa sebenarnya yang kita sebut dosa, yaitu apa saja yang semangatnya bertentangan dengan semangat pertobatan:
*   ketika orang tidak membangun solidaritas sehingga Allah tidak menjadi Bapa bagi semua orang (kita mendiskriminasi orang karena suku, agama, ras, etnis, fisik, keyakinan). Ini berlawanan dengan tujuan tobat.
*   bentuk-bentuk penyangkalan, penolakan bahwa Allah mau membangkitkan orang; menutup diri, tak mengakui bahwa pertobatan adalah rahmat (orang perfeksionis, seolah tobat adalah semata usahanya sehingga jika tak ada perbaikan lantas menjadi frustrasi). Ini tidak cocok dengan inti tobat.

Apa relevansinya hukum dan aturan atau sepuluh perintah Allah? Relevan sebagai suatu cara untuk membangun solidaritas. Diperlukan suatu tatanan yang berlaku seperti golden rule: apa yang kamu gak mau orang lain lakukan kepada kamu, janganlah kamu lakukan kepada orang lain. Rumusan ini jangan dibalik: apa yang kamu mau orang lain lakukan kepadamu, lakukanlah kepada orang lain… karena ini ujung-ujungnya adalah narsis, prinsip do ut des (aku memberi dengan motif supaya aku menerima).

Normalnya orang tidak ingin harta miliknya dicuri orang, maka sudah sewajarnya ia tidak mencuri harta orang lain. Ini lebih mendukung solidaritas daripada aturan yang dibuat dengan prinsip do ut des: orang senang selingkuh, lalu menyodorkan pasangannya untuk diselingkuhi orang lain. Ini adalah solidaritas semu: bersekongkol dalam kesalahan.

Karena itu, orang berdosa bukan pertama-tama karena melanggar aturan ini itu, melainkan karena ia tidak membangun solidaritas demi terwujudnya azas dan dasar hidup manusia. Dengan kesadaran ini, orang tak perlu jatuh dalam sesat paham bahwa sakramen tobat adalah sarana perbaikan diri! Jelas salah. Orang bisa jatuh terus dalam dosa, tetapi bukan itu yang mau diwartakan oleh sakramen tobat. Sakramen tobat mengundang orang supaya tak berfokus pada dosa, tetapi pada niat, semangat, roh untuk membangun solidaritas, menampakkan kebangkitan, memohon rahmat untuk membebaskan diri dari aneka kelekatan maupun kecanduan yang menghambat orang untuk mengabdi Allah dan mencintai sesama.

16 replies

  1. mungkin… ketika seorang itu mulai bertanya “dosakah aku bila..” itu sebenarnya roh kudus sedang bekerja melawan roh kuda. :p ketakutan akan dosa jadi alarm yang berbunyi… “lho kalau kamu bertanya begitu mungkin ada niat sebelumnya yang mendorong kamu berbuat sesuatu yang kamu pikir itu dosa..” mengidentifikasi dosa kan ada rumusannya: ada daftar perbuatan kategori dosa yang pernah dikasih frater waktu retret di civita dulu.. correct me if i am wrong…aku udah tobat mo…:'( nyuwun ngapuro.. *belum mau pindah ke lain blog…

    Like

    • Betul sekali Inge…itu betul sekali… aku pun begitu, dulu tapinya hahaha…. Maksudku, ayolah kita ini sudah semakin tua, mosok ya paham mengenai dosa masih sama dng waktu retret di Civita 25 tahun lalu, hehe. Nanti akan kususulkan catatan mengenai ketakutan akan dosa… amin.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s