Orang Beriman Gak Kebal

Cerita hari ini sederhana sekali: dua anak diminta bekerja; yang pertama bilang ‘siyap!’ tapi gak bikin apa-apa; yang lain bilang ‘ogah!’ tapi akhirnya berangkat kerja. Kalau orang fokus pada pesan moral, cerita seperti itu cuma ditangkap sebagai perbandingan untuk melihat mana yang lebih baik: gajah diblangkonin atau pertobatan yang tulus. Orang ngerti bahwa yang kedua lebih baik. Pesan moralnya: jangan omdo’! Atau, jangan modus! Hueksss… maaf, saya gak sukak pesan moral suatu cerita.

Makna cerita tak identik dengan pesan moral. Si pencerita menggali makna kisah dengan bertanya, “Siapa dari kedua anak itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawabannya pun gampang: anak kedua. 

Anak pertama adalah pendengar yang ngerti pewartaan Yohanes, tapi tak mau percaya. Yang percaya malah para pendosa. Artinya, merekalah yang menyasar kebenaran: melakukan kehendak sang ayah. Kok bisa anak kedua melakukan kehendak ayah padahal tegas mengatakan tidak? Ya karena pertobatan. Tanpa pertobatan, tak ada pelaksanaan kehendak ayah.

Lah, apa bukannya anak pertama itu bertobat juga? Dia kan bilang ‘siyap!’, tapi justru karena bertobat atas perkataannya lalu gak jadi kerja? Haiya… itu bukan pertobatan! Pertobatan bukan asal beda dari yang dikatakan atau tak jadi mengikuti perkataan dong! Tolok ukur pertobatan ialah bahwa kehendak Allah itu dilaksanakan.

Jadi, kembali lagi ke ungkapan hari Minggu lalu (actus fidei non terminatur ad enuntiabile, sed ad rem): yang diperhitungkan bukan apa yang kamu katakan, melainkan apakah halnya sendiri (kehendak Allah) klop atau connect dengan hidupmu! Omong aja bisa dilatih atau dibiasakan, tetapi kehendak Allah bukanlah kebiasaan, teknik, atau keterampilan (klik di sini kalo gak percaya!); kehendak Allah sangat dinamis dari waktu ke waktu.

Bahaya terbesar terhadap iman orang ialah bahwa kebiasaan baiknya (termasuk yang saleh atau suci, doa misalnya) tidak menggores kesadaran sehingga tak lagi mempertanyakan kesuciannya sendiri.

Orang beriman tidak imun terhadap pertanyaan kritis tentang hidup berimannya. Begitulah anak kedua. Anak pertama mungkin tutur katanya baik, suka bersedekah, dan rajin berdoa. Akan tetapi, ia toh tetap perlu mencari jawab yang autentik: apakah itu semua memang mengantarnya pada perjumpaan dengan Allah sendiri, atau kegembiraan yang diperolehnya semata-mata sensasi psikologis (bdk. orang biasa sikat gigi, ketika kebiasaan itu terganggu, lantas merasa tidak nyaman). 


SELASA ADVEN III
16 Desember 2014

Zef 3,1-2.9-13
Mat 21,28-32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s