Friend Request from God

Bacaan hari ini termasuk yang saya gak suka. Isinya cuma A memperanakkan B, B memperanakkan C dan seterusnya! Membosankan! Kenapa? Karena berisi nama-nama asing yang tak saya kenal. Hanya sedikit saja nama yang kisahnya saya ingat! Pokoknya, membosankan! Maunya langsung ke kesimpulan. Eh, tenyata kesimpulannya cuma “ada 14 keturunan dari Abraham sampai Daud, 14 keturunan dari Daud sampai pembuangan di Babel, dan 14 keturunan lagi dari masa pembuangan di Babel sampai Kristus.” Malah ngajari berhitung! Njuk ngopo gituloh?!

Lama-lama saya ngerti bahwa genealogi ini tidak bermuara pada kenyataan sosiologis atau hitungan matematis atau harmoni sastrawi! Muaranya adalah kenyataan teologis. Kenyataan teologis hanya bisa dilihat dengan kerangka teologi tertentu dan kalau sudah ada kata teologi, susah deh menjelaskannya di negeri ini. Baru-baru ini bahkan dinas pendidikan hendak mengganti teologi dengan istilah filsafat keilahian. Asek asek asek… pertanda jelas bahwa petinggi dunia akademik pun gak ngerti materi yang bernama teologi (saya mencoba menjelaskannya lewat buku Teologi Seksual, bukan promo).

Apa sih kenyataan teologis dalam genealogi tulisan Matius ini? Allah sungguh ingin connect dengan sejarah manusia juga melalui ikatan duniawi: perkawinan. Dalam iman Kristen diyakini bahwa Yesus Kristus lahir melalui rahim Maria, tetapi bukan dari sperma Yusuf, suaminya. Haiya, jauh hari sebelum ditemukan teknik bayi tabung, terjadi pembuahan tanpa sperma laki-laki dan hiduplah janin pada rahim Maria. Kebenaran ini tak perlu diperdebatkan, orang tinggal memilih untuk percaya atau tidak percaya. Selesai.

Kalau percaya, tinggal mengikuti saja alur kepercayaan itu. Kalau tidak, orang punya PR untuk menjawab bagaimana Allah yang tak dikenal itu masuk dalam sejarah manusia. Ada yang menjawabnya “melalui Kitab Suci”, ada juga yang menjawabnya “melalui matahari”, misalnya. Saya sendiri tidak menyangkal cara friend request melalui Kitab Suci dan semesta, tetapi saya lebih enjoy dengan friend request melalui pribadi, yang bernama Yesus (Kristus). Saya confirmed friend request itu dengan baptisan. Tak hanya itu, saya berteman dan berusaha menjadi sahabat-Nya dengan join group yang bernama Society of Jesus.

Meskipun begitu, friend request dari Allah rupanya tak sekali jadi dengan satu kali confirm. Tanpa sadar orang bisa unfriend Tuhan dan Tuhan menjadi sosok yang gak dikenal lagi. Akibatnya, omongan mengenai Allah itu jadi asing dan membosankan! Itulah mengapa teologi sangat tidak populer di negeri yang katanya menentang ateisme ini.

Genealogi tulisan Matius menyadarkan pembacanya akan sejarah keselamatan. Ini menuntut orang beriman untuk mengenali friend request dari-Nya sepanjang sejarah hidupnya. Caranya? Pemeriksaan batin, misalnya (klik kata pemeriksaan batin itu).


HARI BIASA KHUSUS ADVEN
Rabu, 17 Desember 2014

Kej 49,2.8-10
Mat 1,1-17

2 replies

    • Terima kasih berkenan mampir.
      IMHO, “theos” dan “logos” sepertinya sudah dipakai beberapa saat setelah kekristenan mendapat tempat di wilayah kekaisaran Romawi… itu artinya sekitar abad ke-4 ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s