Natalan??? Pikirrrr!

Hari Natal itu tanggal 25 Desember, tetapi beberapa malam lalu sudah saya dengar musik gegap gempita: selamat hari Natal. Masih dua minggu lagi, Brow! Apa gak lebih baik cari ibu hamil yang hampir melahirkan saja lalu ucapkan selamat atas kelahiran anaknya ya (yang belum tentu juga selamat)?

Di lain pihak, ada saja orang yang meyakini bahwa kata natal itu bikin dia jadi kafir! Semula saya tidak mengerti pola pikir itu, tetapi lama-lama saya ngeh: kalau untuk join suatu agama tertentu orang cukup menyatakan pokok keyakinan tertentu, logisnya, menyatakan pokok keyakinan yang berbeda berarti juga join ke agama yang berbeda! Itu logis! Yang belum saya ngeh, natal sama sekali bukan pokok keyakinan agama. Gak mungkin orang diterima jadi Kristen hanya karena dia menyatakan selamat natal!

Oh, sori, jangan terprovokasi! Ada hal yang jauh lebih penting daripada problem sepele itu, tapi maaf nih, terpaksa pakai bahasa Latin: actus (baca: aktus) fidei non terminatur ad enuntiabile (baca: enunsiabile), sed ad rem. Tindakan iman tidak bermuara pada pernyataannya, melainkan pada hal yang ditunjuk oleh pernyataan tadi.

Orang Kristen mengakui Allah (Bapa) dalam relasi cinta dengan Yesus Kristus dan Roh Kudus, tetapi pengakuan itu saja gak bikin ia jadi beriman. Itu bergantung pada relasi pribadinya dengan Allah tadi. Mbok dia ke gereja sehari tujuh kali, rosario setiap hari pun, kalau dasarnya bukan relasi pribadi dengan Allah, tak ada tindakan iman di situ. So, iman bukan soal menaati ajaran atau hukum agamanya, melainkan soal hubungan pribadi dengan yang diimaninya.

Bacaan hari ini bicara soal itu: Yohanes bukanlah terang itu, melainkan suara orang yang berseru-seru di padang gurun, yang menunjuk pada terang itu. Jadi, dia adalah penunjuk kepada terang. Seruan keras sampai radang di padang gurun pun takkan bermakna kalau tak mengantar orang pada terang itu.

Esensi iman bukanlah pengetahuan atau rumusan doktrin, ajaran, hukum, atau aturan atas dasar pengetahuan itu. Esensi iman ialah perjumpaan dengan Sang Terang, Tuhan sendiri. Pengetahuan iman itu penting sejauh  mengantar orang pada perjumpaan dengan objek imannya (baca: Bapa, Allah, Sang Hyang Widi, dll). Tanpa perjumpaan itu, iman orang jadi superfisial, garing, rutin, dan formal. Dalam relasi dengan agama lain ia hanya bikin persoalan hal-hal yang remeh temeh!

Kalau begitu, orang beriman mesti secara jujur menilik batinnya, dengan olah rasa dan pikir: apakah pilihan-pilihan atau keputusan dalam hidup ini membawanya pada perjumpaan dengan Tuhan atau malah berhenti pada aturan hukum agama!


MINGGU ADVEN III B/1
14 Desember 2014

Yes 61,1-2a.10-11
1Tes 5,16-24
Yoh 1,6-8.19-28

0 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s