Iman City Tour

Orang waras mestinya tahu kapan ia mesti turun dari bus: ketika sudah sampai tempat tujuan. Bapak saya pernah melakukan sesuatu yang tampaknya konyol, tetapi rupanya dia masih waras juga. Bayangkan, dari Cililitan ke Blok M, ia naik bus yang melewati Warung Cina dan memang sudah sewajarnya ia turun di Warung Cina (sekarang ada rumah makan Ayam Ny. Suharti – kok gak Suharto aja sih). Tetapi ia tidak turun di situ, malah bablas sampai Blok M.

Tak hanya itu, dari Blok M ia juga hanya lewat Warung Cina lagi. Padahal, jika ia turun di Warung Cina, ia tak perlu menyeberang jalan untuk masuk ke Jalan Poncol Jaya. Ia terus ikut bus sampai Cililitan lagi, dan baru setelah itu ambil bus jurusan Blok M lagi lalu turun di Warung Cina. Loh, kok tidak turun dari stadi sih?!!! Hmmm…ada unsur warasnya juga. Ia menanti hujan deras di Warung Cina berhenti! Ia tak membawa payung dan tak ada ojek payung. Hujan baru berhenti setelah ia mengambil trayek Cililitan-Blok M untuk kali kedua.

*****

Orang yang beriman matang kiranya tahu fungsi aturan dan hukum: untuk mengantarnya pada perjumpaan dengan Tuhan. Artinya, aturan dan hukum agama itu diperlakukannya sebagai sarana, dan bukan tujuan pada dirinya sendiri. Hukum dan aturan menjadi relatif terhadap tujuan, dan orang perlu ‘turun dari bus’ setelah sampai tujuan.

Ini tidak mengatakan bahwa bus itu tak berguna lagi, tetapi orang tak bisa terus menerus berada dalam bus jika memang tujuan sudah tercapai. Kecuali, bus itu adalah bus city tour, yang berarti bus untuk sekadar melihat-lihat situs kota dari kejauhan, dari permukaan, secara dangkal.

Itulah mengapa Yesus menegur keras orang Farisi. Mereka menghayati hukum sedemikian rupa sehingga buahnya adalah iri hati, kejengkelan, keluhan, kemarahan. Paulus menegaskan bahwa kebebasan karena Roh membuahkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Maka dari itu, kalau orang menjalankan perintah agama sebagai aturan dan hukum belaka (apalagi dengan menggerutu), barangkali ia seperti sedang naik bus city tour, cicip-cicip iman doang, tak pernah bermaksud untuk sungguh-sungguh berjumpa dengan Tuhan dalam hidupnya.


RABU BIASA XXVIII
Peringatan Wajib Santa Theresia dari Avila
15 Oktober 2014

Gal 5,18-25
Luk 11,42-46

2 replies

  1. ngomong tentang SARANA dan TUJUAN emang asiiik betul…tapi lebih ausiiik jk dilakoni..krn di sana ada tegang dan kendur..kayak orang main layang-layang..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s