Filsafat Main-main

Ini ada filosofi orang Indonesia yang belajar filsafat di Roma, Italia, dan memelopori berdirinya sekolah filsafat di Indonesia. Banyak orang sukak main plesetan sehingga tak bisa mengucapkan namanya (Driyarkara) dengan baik sehingga jadi Driyakarya. Memang kata “griya” lebih populer daripada “driya” dan kata “karya” jelas lebih gampang dimengerti daripada “kara”. Gak heran, nama asli DRIYARKARA diplesetkan jadi Driyakarya, sehingga dikenallah STF Driyakarya… dan saya bukan alumnus sekolah tinggi itu.

Tapi, saya yakin penilaian saya itu keliru. Perubahan nama itu bukan karena orang suka plesetan, melainkan karena orang cenderung menyepelekan ejaan, tak peduli, kurang teliti terhadap nama orang lain, cuma peduli pada nama sendiri [barangkali sih ini ungkapan heran karena orang menyamakan Setyawan dengan Setiawan, hahaha], atau memang nama orang lain secara objektif sangat susah. Apa pun itu, inilah filosofi yang dirumuskan oleh Driyarkara itu:

Bermainlah dalam permainan, tetapi janganlah main-main!
Mainlah dengan sungguh-sungguh tetapi permainan jangan dipersungguh.
Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya,
sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh [permainan] lagi.
Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros.
Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon.
Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan.
Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia.


Analisis berikut ini barangkali bisa memberi perspektif yang membantu pemahaman terhadap filsafat manusia Driyarkara tersebut. Lihatlah misalnya permainan sepak bola. Apakah Anda kira setelah kick off itu 22 orang mempermainkan bola? Ataukah sebetulnya 22 pemain itu dipermainkan oleh bola? Mereka mesti mengejar dan berebut bola untuk berlomba-lomba membuat gol di gawang lawan. Jadi, sebetulnya pemain itu dipermainkan oleh bola yang mereka permainkan sendiri.

Bayangkanlah setelah kick off bola ditendang langsung ke arah gawang dan membentur tiang gawang dan tak ada satu pun pemain yang mengejar bola. Apa jadinya? Mereka mempermainkan aturan main sehingga malah tak ada permainan. Tak ada gol. Tak ada tujuan permainan. Tak ada sistem. Tak ada tontonan. Jika semua manusia ini mesti menyingkirkan eros, meniadakan hasrat dan keinginannya (yang konon adalah sumber masalah), ya jelas tak ada kehidupan!  

Orang mesti masuk dalam sistem permainan hidup ini. Akan tetapi, masuk dalam sistem permainan tidak selalu berarti dipermainkan oleh sistem permainan itu. Setiap orang mesti memiliki kemampuan untuk mengambil jarak dari permainan itu. Caranya? Dengan mengerti sungguh-sungguh dan mengikuti aturan mainnya: tujuan, sarana, batas-batasnya. Jika orang yang menggebu-gebu (dengan eros) berusaha meraih kemenangan (karena agon) tak mengindahkan aturan atau sistem permainan, ia malah jadi korban permainan.

Itulah mengapa banyak orang krasan dengan permainan politiknya yang kasar, tak sanggup mengambil jarak dari permainan politik. Mereka begitu asyik dan serius dengan permainan politik dan malah menjadi korban permainan politik itu sendiri. Acap kali karena mereka adalah korban permainan itu, lebih banyak lagi orang lain yang jadi korban tak langsung, yaitu rakyat.

Sudah sewajarnya rakyat mesti masuk dalam permainan, dengan menyentil, menjewer, nggampar atau menonjok politikus yang benar-benar gak ngerti aturan mainnya. Konon ada anggota DPR yang gak ngerti hak dan kewajiban sebagai anggota DPR… Semoga rakyat semakin cerdas dan tak terbodohi popularitas selebriti, misalnya.

4 replies

  1. Filsafat Kanjeng Driyarkara tersebut..senada dengan pesene simbah “urip kudu eling lan waspada”..dunia tambah edan mempermainkan Allah..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s