Ngotot tapi Santai… Piye jal?

Kebanyakan dari problem kita bukanlah problem finansial. Kesulitan dan masalah terbesar pada umumnya kita temukan dalam problem relasi. Seringkali bahkan kita yang tak punya masalah finansial, menghadapi kesulitan besar dalam aneka relasi di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan sebagainya: relasi antara anak dan orang tua, antara guru dan murid, antara teman yang satu dan teman lainnya.

Bacaan hari ini tampaknya jauh dari problem relasi sehari-hari (kalau mau, silakan lihat “Tuhan? Gak ada urusan!“), tetapi bisa jadi malah menerangi keseharian kita: bagaimana membangun dasar bagi suatu relasi yang baik dengan dunia dan sesama. Bagaimana kita sungguh melibati hidup sehari-hari sebagai suatu permainan tanpa diperbudak oleh permainan itu (kalau masih suka main-main, cobalah sekali-sekali membaca Filosofi Main-Main)? Lah, emangnya hidup ini permainan? Mungkin bukan, tetapi jika orang tak bisa melihatnya dalam kerangka permainan, hidupnya bakal penuh beban, jadi budak atau korban problem sehari-hari itu.

Dua kata kunci disodorkan azas dan dasar hidup manusia: detachment dan passion. Kata detachment kadang disalahpahami sebagai ketidakpedulian: terserah apa kata lu deh, aku gak peduli. Sikap ini membuat orang tak terlibat dengan pokok persoalan: terserah anak mau ngapain, teman bikin perkara apa, orang tua mau omong apa, dll.

Sementara kata passion juga bisa disalahartikan sebagai gelora nafsu yang membutakan orang sehingga ia jadi budak passion itu: orang jadi stress karena kegagalan, mutung alias ngambek, marah karena permintaannya tak dipenuhi, menyimpan dendam ke mana-mana, dan sebagainya. Bagaimana mungkin orang bisa menghayati tegangan antara detachment dan passion?

Jawaban shortcut untuk pertanyaan itu: memusatkan perhatian pada level atau dimensi yang lebih ‘tinggi’, lebih ‘luas’, lebih ‘dalam’. Ini biasanya terungkap dalam pernyataan yang bernada kurang lebih begini: apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti karena Tuhan sedang merenda suatu karya agung mulia. Aktor utama hidup ini bukan aku, melainkan Dia yang senantiasa mengundangku bekerja sama.

Aku mesti ngotot memperjuangkan nilai dan prinsip yang penting sembari senantiasa sadar bahwa perjuanganku ini cuma elemen kecil dari proses panjang Semesta nan mahadahsyat.


HARI MINGGU BIASA IV B/1
Minggu, 1 Februari 2015

Ul 18,15-20
1Kor 7,32-35
Mrk 1,21-28

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s