Pembawa Damai nan Ceria

I am only Don Bosco, friend of street kids. Kira-kira begitulah salah satu ungkapan terkenal dari Romo/Pastor Bosco (baca: bosko). Sejak kecil ia bermimpi (baca: punya hasrat kuat) untuk menjadi imam dan aneka tantangan dan kesulitan dihadapinya. Setelah jadi imam, perhatiannya terhadap anak-anak muda yang umumnya nakal dan miskin itu pun tak sirna.

Suatu hari di tahun 1841, ketika bersiap hendak memimpin perayaan Ekaristi, Don Bosco mendengar kegaduhan di sakristi (tempat pastor dan petugas misa mempersiapkan diri sebelum misa, ruangan yang biasanya dekat altar). Rupanya sang koster (orang yang menyiapkan aneka perlengkapan misa di sakristi) ngomel-ngomel terhadap seorang anak miskin yang hendak jadi misdinar tetapi gak ngerti tata cara jadi misdinar. Tidak hanya ngomel, koster itu bahkan memukuli anak itu dengan tongkat dan mengusirnya keluar dari sakristi, “Kamu di sini dan gak ngerti melayani imam? Sana pergi!”

Don Bosco menghentikan kegaduhan itu, “Sudah! Sudah! Dia teman saya!” Sang koster berhenti memukuli anak itu. Herannya, Don Bosco lalu menanyakan namanya (tadi katanya teman, kok baru tanya namanya siapa?) memintanya tetap di situ sampai misa selesai dan bahkan mengajaknya sarapan.

Bartolomeo Garelli, 16 tahun, yatim piatu, bekerja sebagai tukang batu. “Kamu bisa calistung?” tanya Don Bosco. Tahu kan jawabnya? Pasti tidak, wong calistung itu cuma ada di Indonesia, sedangkan mereka ada di Italia utara.
“Kamu bisa nyanyi?” tanya Don Bosco lagi. Bartolomeo menggeleng dan gelengan kepala memang bukan nyanyian.

Pertanyaan terakhir,”Kamu bisa bersiul, suit suiiiit, gitu?”
Saat itulah Bartolomeo nyengir, tertawa, dan memang itulah yang diincar Don Bosco. Mereka omong panjang lebar dan Don Bosco sendiri mau memberi pelajaran agama kepada Bartolomeo. Tiga hari kemudian Bartolomeo mengajak delapan teman lainnya dan begitulah Don Bosco mulai memberikan pelayanan kepada anak-anak muda.

Iman dalam hidup ini seyogyanya nyambung dengan kegaduhan dunia: bukan untuk ikut-ikutan gaduh, melainkan dalam harapan akan cinta mengarahkan kegaduhan itu.

uang 

SABTU BIASA III B/1
31 Januari 2015
Peringatan Wajib Santo Yohanes Bosko

Ibr 11,1-2.8-19
Mrk 4,35-41

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s