Bedanya Burjo dan Bojo

Gak semua orang suka bubur kacang ijo (burjo), tapi kiranya ada lebih banyak orang yang suka bojo (istri atau suami) orang lain. Nah lo, ngaku aja deh; itu juga kenapa ada larangan dalam sepuluh perintah Allah: jangan menginginkan milik orang lain. Suka bojo orang lain mah gapapa, tapi jangan kebablasen untuk menginginkannya. Lha iya, orang suka pada sesuatu atau seseorang kan normal, tapi lain soalnya kalau sudah masuk ranah politik. Begitu masuk ranah politik, suasananya jadi seru, bisa jadi gak karuan dan ceritanya gak kalah menyebalkan dari sinetron-sinetron bosok.

Entah Anda suka burjo atau bojo orang lain, menonton klip di bawah ini kiranya tidak menimbulkan efek samping secara politis. Video diambil dari Wikipedia.

Bacaan hari ini menyodorkan kembali suatu perumpamaan mengenai Kerajaan Allah dengan metafora tumbuhan. Allahlah yang menumbuhkan benih, namun dibutuhkan orang untuk menebarkannya di tanah yang subur. Memang ini bukan kebutuhan mutlak karena Allah bisa saja melakukannya tanpa campur tangan manusia. Akan tetapi, justru itulah poinnya: Allah toh tetap menginginkan penabur dan status orang menjadi kolaborator atau co-worker Allah (sudah pernah ada posting mengenai itu di link ini).

Kita tidak bisa hanya secara pasif menantikan datangnya Kerajaan Allah, tetapi seturut kemungkinan dan posisi masing-masing, mesti memfasilitasi kedatangan Kerajaan Allah itu. Jika pada saatnya buahnya begitu dahsyat, umat beriman tak perlu menjadi borju secara rohani seolah-olah hasil dahsyat itu adalah upayanya sendiri. Intervensi ajaib Allah seperti intervensi-Nya pada benih kacang ijo itu bisa mengingatkan kita bahwa kita benar-benar kolaborator, co-worker. Kebenaran ini menyeimbangkan umat beriman supaya tidak larut dalam pesimisme yang melumpuhkan, tetapi juga tidak kebablasen dalam tanggung jawab dan malah bikin politik amburadul. Ora et labora! 


JUMAT BIASA III B/1
30 Januari 2015

Ibr 10,32-39
Mrk 4,26-34

3 replies

    • Halo mas Dito 007, sayang ya ada pepatah yang berlaku: de gustibus non disputandum est (mengenai selera tak bisa diperdebatkan)… selamat menikmati burjo di rumah.
      Maturnuwun kunjungannya.

      Like

      • leres romo, soal selera & hati gak bisa diperdebatkan.
        bojo di rumah lebih menarik meski di warung sebelah tersedia banyak pilihan… 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s