Ayo Berlagak Jadi Presiden

Presiden Indonesia ini cuma satu, tapi mungkin yang ngiler jadi presiden ada seribu satu. Salah satu bentuk ilernya ialah kenyinyiran dan kritik tiada henti atas kinerja presiden baru. Baru seratus hari kerja, dituntut membongkar korupsi yang sudah berakar sejak Orde Baru. Memang wajar dan perlulah kritik, tapi tak wajar dan sarulah konflik di saat orang mulai mengasah badik.

Bacaan hari ini mengamanahkan umat beriman untuk menjadi rendah hati, bukan dengan memendam potensi, melainkan justru menguak potensi tanpa risau soal posisi. Artinya, setiap orang, dalam posisinya masing-masing, mesti berpartisipasi sebaik-baiknya demi pembangunan bangsa. Memang mencaci maki jauh lebih mudah daripada membuat kritik yang konstruktif. Kritik konstruktif mengandaikan empati: ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Menarik dukungan (menit 2:44 pada klip di atas) dan membentuk parlemen jalanan tampak berkesan menjaga objektivitas pendukung Jokowi-JK. Akan tetapi, sebagaimana orang berharap Jokowi-JK segera menentukan sikap dan mengambil keputusan atas konflik yang sarat kepentingan, setiap orang ditantang untuk menentukan sikap yang sama: berpihak pada keadilan. Tak adillah mencaci maki Jokowi-JK semata karena mereka terkesan lamban atau undecided atas persoalan yang memang dilematis.

Alih-alih menarik dukungan, kiranya lebih baik memberikan dukungan moral supaya semakin nyatalah perlawanan terhadap roh atau kekuatan culas yang bergentayangan di aneka partai, KPK, Polri dan lembaga lainnya. Jokowi-JK sendiri sudah punya pressure luar biasa dari aneka lembaga itu; jika ditambah pressure dari masyarakat, apa malah tidak mbledhos? Tidak, asal pressure itu (kalau bisa disebut pressure) diarahkan untuk mengikat nurani presiden. Presiden yang rendah hati adalah presiden yang mendengarkan hati nuraninya; maka, mari berlagak jadi presiden dengan mendengarkan suara hati dan berani mengambil langkah atas dasar hati nurani itu. 


KAMIS BIASA III B/1
29 Januari 2015

Ibr 10,19-25
Mrk 4,21-25

4 replies

  1. Salah satu ungkapan berkesan saat wawancara seleksi Ketua KPK thd BW sbg salah satu kontestan-nya adl beliau bilang, “ada salah satu ayat dalam Al-Qur’an yg juga menjadi pegangan saya selama ini, yang artinya kira2: “Bersikap adillah terhadap orang yang tidak kau sukai.” Ini yg sulit dilakukan orang kebanyakan ya. Takut menyatakan kebenaran karena budi baik seseorang dll bukan krn ‘takut’ pada Tuhan. Pengunduran diri BW jelas bukan karena takut ma orang. Beliau sudah dicobai teror dsb berkali-kali.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s