Tiga Jenis Presiden

Sense of belonging seorang presiden kiranya mengacu pada tempurung yang lebih luas daripada seorang lurah, misalnya. Ia menempatkan dirinya sebagai bagian dari sebuah negara dengan geopolitik yang lebih besar daripada kelurahan. Medan perhatiannya jauh lebih kompleks daripada tanggung jawab lurah. Itu juga berarti ia lebih akrab dengan aneka manifestasi kekuatan politik, entah yang baik atau yang jahat. Ada tiga jenis presiden berhubung dengan legitimasi dan komitmennya dalam menjalankan tugas.

Pertama adalah presiden yang legitimasinya tak begitu berakar dari rakyat, tetapi dari kekuatan eksternal yang dihimpunnya, entah finansial atau militer. Awalnya berkobar-kobar, tetapi lalu kelihatan bahwa kobarannya tak sejalan dengan kepentingan rakyat. Kebijakannya jelas menunjukkan dirinya mengejar posisi semata untuk berkuasa dan membuka front yang melawan kepentingan rakyat. Rakyat yang tak menjadi akar legitimasinya semakin terabaikan. Pikirnya, toh hidup ini suatu struggle for the fittest! Yang kuat yang menang atau bertahan hidup.

Kedua adalah presiden yang cukup berakar dari rakyat, tetapi sebagian besar rakyat itu adalah kelompok oportunis yang tak mau menanggung risiko kesusahan hidup. Presiden ini tertekan oleh rakyat nan oportunis itu dan kebijakannya disetir oleh kepentingan ekonomis. Ujung-ujungnya, kesenjangan ekonomi tak berkurang secara signifikan, atau malah semakin melebar; rakyat lemah tak tertolong.

Ketiga adalah presiden yang sungguh berakar dari rakyat dan mengerti betul keadaan nyata rakyatnya tanpa debat panjang lebar mengenai garis kemiskinan. Ia menangkap suatu ketidakadilan struktural. Ia mengerti betul bahwa pressure terhadapnya akan datang dari segala penjuru, tetapi ia bergeming pada kepentingan rakyat yang sesungguhnya: semua saja mesti berpikir soal kebaikan bersama, bukan korpsnya, keluarganya, atau partainya sendiri.

Siapa personifikasi presiden itu? Setiap orang mesti ngaca kalau-kalau: (1) tak peduli dengan diri autentiknya yang berjiwa sosial, (2) mendengar diri autentiknya tapi termakan ideologi kaum oportunis, dan (3) konsekuen dan konsisten mengembangkan dimensi sosialnya dengan prinsip keadilan.

RABU BIASA III B/1
28 Januari 2015
Peringatan Wajib St. Thomas Aquino

Ibr 10,11-18
Mrk 4,1-20

2 replies

  1. “We have all known the long loneliness and we have learned that the only solution is love and that love comes with community.”
    ― Dorothy Day, The Long Loneliness: The Autobiography of the Legendary Catholic Social Activist

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s