Non Sense-of-Belonging

Ada ibu yang alpa merawat anak kandungnya yang berada dalam bahaya maut semata karena mengira yang cedera itu anak orang lain (kisah lengkapnya ada di sini). Ia (mau) menolong jika yang perlu ditolong adalah anaknya; kalau bukan, ia abaikan saja.

Tak sedikit orang memahami sense of belonging sebagai suatu “rasa memiliki” atau “rasa kepemilikan”. Ini tidak tepat. Kok isa?

Andaikanlah: jika siswa punya sense of belonging terhadap sekolah, ia merasa memiliki sekolah itu. Siswa itu subjeknya, yang punya rasa (padahal, jelas dong pemilik sekolah itu adalah yayasan atau negara), yang jadi titik acuan, yang jadi pusat perhatian! Lho ya jelas to, Rom, memang begitulah struktur bahasanya.

Dalam Bahasa Inggris pengertiannya jelas. Kalimat I belong to a family menunjukkan ‘saya’ sebagai subjek, yang menjadi bagian, bukan yang merasa memiliki, dari objek tertentu, yaitu keluarga. Titik acuan justru adalah keluarga: saya adalah bagian dari sebuah keluarga itu.

Omong kosong bahwa sense of belonging itu penting karena orang yang punya rasa memiliki akan peduli, berempati, dan bla bla bla. Sense of belonging penting, tetapi bukan karena rasa memilikinya (yang malah bisa menjatuhkan orang pada kelekatan atau attachment), melainkan karena sense itu mengidentifikasikan orang sebagai bagian dari tempurung tertentu, entah sempit atau luas!

Kisah di awal menunjukkan identifikasi orang pada tempurung sempit: orang baru mau bertindak kalau tindakan itu menyangkut propertinya, anaknya, rumahnya, keluarganya, bangsanya, sukunya, agamanya…

Titik acuan atau tempurung yang ditawarkan bacaan hari ini adalah keluarga Allah. Orang menjadi bagian keluarga Allah bukan karena ikatan darah, melainkan ikatan perjanjian dengan Allah. Syaratnya: mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Itulah yang disebut Yesus sebagai ibu dan saudaranya.

Dengan paradigma baru ini, sense of belonging memampukan orang bertindak karena merasa diri sebagai saluran cinta Allah yang bermuara kepada semakin banyak orang seluas dunia dan tak bisa dikungkung dalam attachment terhadap properti, suku, bangsa, agama, dan partai, tentunya…


SELASA BIASA III B/1
27 Januari 2015

Ibr 10,1-10
Mrk 3,31-35

2 replies

  1. Sekarang ini, kalau seorang sedang kaya – banyak duit dan suka ajak traktir dan nyumbang-nyumbang maka relasinya banyak. Tapi belum tentu relasi tersebut mau datang kalau dia sedang syusyah hihihi. Makanya aku ‘males’ juga dengan tradisi “antar jemput kebaikan” di suku tertentu yang menurutku ‘nggak membuat orang “ngeh” dengan kebaikan nilai detachment. Kang Kris mendorong orang berpartisisapi aktif jadi saluran dalam menyelenggarakan kebaikan yang trigger-nya sudah datang dari Allah. Sikap kelekatan membuat orang jadi sering bersikap frontal, lu-lu gue-gue dan bukannya bersikap konstruktip di mana pun dia berada. Suwun.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s