Iman Punya Preferensi

Juga dalam dunia sepak bola, seorang pemain kelas dunia menyatakan kurang lebih begini: sebaik apa pun Anda bertanding tetapi kalah di final, Anda tidak akan pernah dikenang. Tak ada orang mengenangkan juara 2 Piala Dunia. Jauh lebih gampang diingat ialah pemenang Piala Dunia. Memang begitulah. Tak menariklah pertandingan yang sudah diatur hasilnya. Ini bisa dikenai sanksi. Orang mesti berupaya supaya menjadi pemenang. Apakah itu salah? Tidak.

Menjadi pemenang adalah dorongan manusiawi juga, tetapi dorongan ini bisa jadi salah tempat jika orang tak punya paradigma yang tepat terhadap realitas yang dihadapinya. Bacaan Injil hari ini menyodorkan dua sosok yang merepresentasikan dua paradigma terhadap kehidupan. Yang pertama adalah Maria. Yang kedua adalah Yudas. Bisa juga dibalik untuk pertama dan kedua. Pokoknya, sebelum detik-detik penangkapannya, Yesus meluangkan waktu untuk berkumpul dengan orang-orang terdekatnya: Lazarus (yang dibangkitkannya), Marta dan Maria. Mereka berpesta atas Yesus yang membangkitkan Lazarus, sembari merasa-rasakan Yesus yang sebenarnya sedang ‘sekarat’ setelah konspirasi pemimpin religius semakin kentara.

Maria ini mengurapi kaki Yesus dengan minyak nyong nyong yang harganya sepadan dengan gaji normal untuk setahun kerja. Yudas protes dengan dalih uang sebanyak itu bisa disumbangkan untuk orang-orang miskin. Yesus tidak sebodoh yang dipikir Yudas (yang sebenarnya punya kepentingan untuk korupsi). Ia melihat tindakan Maria sebagai pilihan yang lebih masuk akal dan manusiawi, bahkan menjadi tindakan simbolik profetis: seperti mengurapi orang mati sebelum kematiannya. Orang-orang Yahudi memilih untuk membunuh Yesus, tetapi Maria mengambil keputusan berbeda. Ia seolah memenuhi nubuat Kitab Sirakh (24,1-22) bahwa keharuman Sang Kebijaksanaan ini merebak, memenuhi seluruh relung hati orang. Dengan tindakannya, Maria menegaskan bahwa Yesus, dalam kematiannya, tetap mewangi ilahi, tak rusak oleh aneka kehancuran manusiawi.

Yudas merepresentasikan banyak orang. Ia punya agenda pribadi yang dahsyat dan pilihannya dilandasi oleh keserakahan atas hidup manusiawinya. Dalihnya mengenai uang untuk orang miskin jelas terbantahkan oleh pernyataan Yesus bahwa orang miskin senantiasa ada selama setiap orang hanya pikir dengan paradigma duniawi; tetapi ‘hidup bersama Yesus’ tak selalu bisa dihayati orang beriman (justru karena hidup sehari-hari orang beriman ada dalam intaian paradigma duniawi, a.k.a ideologi pemenang).

Parameter duniawi dan ilahi, untuk mengukur kebesaran seseorang, memang beda banget. Sejarah dunia mencatat banyak pahlawan, tetapi jelas tak mungkin memberi tempat kepada semua pahlawan. Paling banter, hanya dituliskan dalam nisan: sejumlah pahlawan yang tak dikenal! Akan tetapi, entah pahlawan itu bernama atau anonim, tolok ukurnya ialah ideologi kemenangan. Apa ya salah sih orang mencari kemenangan? Ya tidak! Akan tetapi, kemenangan itu juga mesti dimaknai bukan hanya dengan parameter duniawi.

Sejarah keselamatan terbangun oleh imaji Kristus yang terlahir dalam kemiskinan, aneka kesusahan pada masa kecilnya, dan setelah bekerja tiga tahun pun dibantai habis-habisan oleh orang banyak. Kalau fakta ini ditangkap sebagai kekalahan, berarti orang tak memiliki iman akan kekuatan Allah yang menjadi Bapa bagi semua dan Roh Kudus yang senantiasa bekerja. Pada kenyataannya, jauh lebih banyak orang memandang peristiwa seperti ini sebagai kekalahan semata dan tak ada cara pandang ilahi yang mereka kenakan.

Iman senantiasa memiliki preferensi: mengenakan cara pandang Allah sendiri. Bagaimana mungkin? Justru dengan preferensi terhadap orang-orang kalah di mata dunia tadi. Preferensi terhadap orang-orang kalah ini mendorong dinamika hidup orang beriman. Otherwise, orang beriman mapan jadi bagian para penindas, pemegang ideologi kemenangan, mencederai sejarah keselamatan.


HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI
30 Maret 2015

Yes 42,1-7
Yoh 12,1-11

Posting Tahun Lalu: Honoring the Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s