Adakah Agama Kafir?

Ada sebagian orang, karena tidak mau membedakan iman dan agama, berkeyakinan bahwa mempertobatkan orang berarti mengubah agama seseorang: dari Buddha ke Islam, dari Islam ke Kristen, dari Kristen ke Hindu, dari Hindu ke Katolik, dan seterusnya. Padahal, ditinjau dari sudut agama yang ditinggalkan, tindakan itu disebut murtad. Lha rak jahat, yang satu bilang bertobat, yang lain bilang murtad.

Gereja Katolik hari ini memestakan bertobatnya Paulus. Apakah ia meninggalkan agama Yahudi dan jadi Kristen? Rupanya tidak, wong julukan Kristen itu juga cuma labelling dari masyarakat yang melihat cara hidup mereka (bdk. Kis 11,22-26). Paulus tetaplah Yahudi dan menyarankan orang non-Yahudi untuk tidak berlagak sebagai orang Yahudi dalam menanggapi panggilan Allah (bdk. Kis 21,15-26 dan 1Kor 7,18-19: Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah).

Jadi, terminologi ‘mempertobatkan orang’ jelaslah berbeda dari ‘melakukan proselitisme‘. Yang kedua ini rentan konflik horisontal karena menyimpan paradigma bahwa agama selain yang dianut seseorang akan disebutnya agama kafir! Dengan paradigma ini, orang bisa merasa diri heroik karena berhasil merekrut orang lain untuk masuk dalam agamanya, orang bisa merasa diri diridai Allah jika berhasil membaptis orang beragama lain, orang bisa baru merasa tenang setelah tetangganya yang beragama kafir masuk dalam gerejanya, dan seterusnya.

Rasa-rasanya pernah saya sharingkan seorang anak yang datang kepada saya dan mengatakan bahwa ia ingin pindah agama dan secepat kedipan mata saya jawab ‘silakan’ dan anak itu malah terheran-heran. Bukannya saya menahannya, kok malah menyokong dia supaya pindah agama. Nak, bukan soal menyokong kamu pindah agama, melainkan soal berharap supaya kamu bisa menemukan dan ditemukan Tuhan. Kalau selama ini kamu tak juga menemukan Allah itu, memang ada beberapa kemungkinan: kamu mencari egomu sendiri atau agama ini memang bukan sarana yang tepat bagimu untuk berjumpa dengan Tuhan.

Loh, Mo, bukannya teks hari ini merupakan undangan untuk pergi ke seluruh dunia dan membaptis orang? Eaaaa…. mbok dibaca baik-baik, Boss! Perintahnya berbunyi: pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah kabar gembira kepada semua makhluk. Kalimat berikutnya bukan perintah. Pun kalau itu perintah ‘baptislah semua orang’ (seperti dirumuskan dalam Mat 28,19), perlu dicamkan kata-kata Yohanes Pembaptis (Yoh 1,33): baptisan dengan air tak ada apa-apanya dibandingkan dengan baptisan dengan Roh.

Kemarin beredar video baptisan bayi di Eropa Timur. Sang pastor mencelap-celupkan bayi ke baskom air dalam beberapa detik. Ada model baptis dengan pembenaman di kolam renang (tempat publik!), dan sebagainya. Pokoknya, ada airnya. Ini lebih merupakan persoalan agama daripada persoalan pertobatan. Pertobatan lebih terhubung dengan baptisan Roh dan baptisan Roh tak bisa dimonopoli oleh agama Kristen atau Katolik karena yang membaptis dengan Roh itu adalah Yesus yang oleh orang Kristiani disebut Kristus. Setiap orang, apapun agamanya, menerima Roh Kudus yang senantiasa menuntun hatinya untuk pulang kembali kepada Allah. Roh Kudus ini terus bekerja sehingga pertobatan orang pun juga mengikutinya: on going conversion.

Ya Allah, mohon rahmat pertobatan. Amin.


PESTA BERTOBATNYA S. PAULUS
Rabu Biasa III A/1
25 Januari 2017

Kis 22,3-16
Mrk
16,15-18

Posting Tahun Lalu: Jangan Mengobjekkan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s