Ciyus, Awas Kristenisasi!

Loh, kemarin bilangnya gak usah takut sama kristenisasi, sekarang bilang hati-hati terhadap kristenisasi! Piye sih? Mencla-mencle!

Bukan dong! Hati-hati gak identik dengan takut/khawatir. Mungkin lebih dekat dengan waspada. Kenapa mesti mewaspadai kristenisasi? Katanya gak usah khawatir soal jumlah!

Loh ya memang saya gak khawatir soal kuantitas! Fokus saya bukan kuantitas karena itu cuma soal ‘keseimbangan alam’: ada yang kurang, mesti ada yang nambah. Ini galeri data riset tetangga sebelah:

Shifting religious identity

Orang Katolik menyusut 22% karena pindah menjadi Protestan atau tak memeluk agama. Kenapa? Ini alasan yang terungkap dari 30.000 wawancara di beberapa negara dalam rentang waktu empat bulan sejak Oktober 2013 lalu:

Pew research
Detil riset itu menarik dan penting, tetapi cukuplah di sini dilihat beberapa hal yang bisa dijadikan medium untuk becermin. Dari tiga alasan terkuat itu bisa dibilang ibadat yang tak mengakomodasi sentuhan relasi personal umat dengan Tuhannya dan yang tak berkorelasi kuat dengan moralitas akan cenderung ditinggalkan orang muda.

Apakah ini hanya berlaku untuk Gereja Katolik? Saya kira tidak. Orang-orang muda dalam fase pencarian identitas memang merindukan sentuhan dari Yang Transenden itu; pada masa kritis itu mereka semakin peka pada aspek moral (bdk. pikiran “Yang penting kan moralnya baik, ngapain mesti shalat ke mesjid atau sembahyang ke gereja yang membosankan?”).

Itu mengapa kelompok Kristen yang kecil bisa lebih lincah bergerak ke sana kemari (tanpa institutional lag yang cenderung ada pada lembaga agama besar) menarik orang muda untuk bergabung. Sekali lagi, soal hijrahnya orang Katolik ke Protestan (atau agama lain pun) sama sekali bukan concern saya.

Yang menjadi perhatian dan keprihatinan saya ialah alasan hijrah yang seringkali melulu soal tatanan luar: ibadatnya lebih menggelorakan hati (ya pakai band keras bagaimana tidak menggelorakan hati… itu seperti orang menonton musik live dengan mendengarkan via headset, pasti sensasinya beda dong); orang-orangnya lebih care, kotbah pendeta lebih lucu dan berisi, dst… Itu semua hal-hal yang ada “di luaran”.

Karena, de facto, alasan hijrah itu adalah wilayah “luaran” tadi, berarti Gereja Katolik gagal melakukan pendalaman iman, mistagogi, bagi anggota-anggotanya. Pengakaran iman tak berjalan mulus dengan pendekatan hirarkis-birokratis-liturgis. Itulah yang lebih mengkhawatirkan: orang yang belum berakar tentu mudah terhempas badai. Celakanya, di tempat yang baru pun, ia juga tak berakar, sehingga malah memfitnah tempat asalnya seolah-olah dia pernah berakar di tempat asalnya.

Root storm

Lain soalnya kalau orang sudah sungguh berakar, hanya badai amat kuatlah yang bisa mencabutnya: Tuhan sendiri; dan kalau Tuhan sendiri yang mencabutnya, itulah hidayah, kenapa orang mesti risau?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s