Jangan takut (kristenisasi) car free day

Ada thread berjudul Kristenisasi Terselubung di Car Free Day yang tampaknya sudah ditutup. Klip di Youtube mungkin masih ada di sini. Ada poin yang mau disampaikan di situ meskipun terlalu disederhanakan dengan label kristenisasi.

Saya Katolik dan punya pengalaman di ruang publik didatangi seseorang supaya bergabung dengan kelompoknya (Kristen); jauh lebih kasar daripada bagi-bagi kalung, permen, atau susu. Saya duga orang seperti itu punya kesesatan paham sebegitu rupa sehingga bahkan kalau ketemu Yesus pada car free day pun, Yesus itu juga akan dikristenkannya! Bisa jadi ia korban brainwashing yang ngejar setoran baik jumlah orang maupun (konsekuensinya) uang.

FYI, tak semua yang disebut Kristen adalah memang jemaat Kristen yang diterima PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Bisa jadi ada kelompok sempalan dan untuk maintenance diperlukan gerilya. Kelompok seperti ini bisa gencar mencari mangsa dan oleh publik, hanya karena menyebut-nyebut Tuhan Yesus (padahal belum tentu juga mereka sungguh memahami kerumitan sebutan Tuhan Yesus itu), disebut kristenisasi.

Kristenisasi ala predator itu dibuat oleh kelompok fundamentalis (yang berarti picik). Siapa korbannya? Orang yang imannya dangkal dan rentan pada iming-iming harta atau aneka kemudahan hidup yang ditawarkan.

So, di satu pihak sungguh memprihatinkan bahwa ada kelompok fundamentalis yang memaksa orang lain. Ini bisa jadi pelanggaran HAM. Akan tetapi, di lain pihak justru fenomena ini bisa menjadi alat ukur dakwah atau pendalaman iman bagi pemeluk agama lain. Jangan-jangan umat beragama tidak sungguh-sungguh memupuk iman saudaranya sehingga mudah terseret oleh iming-iming harta, tahta, pria-wanita.

Karena itu, masuk akallah pesan supaya tak usah takut atau khawatir terhadap kristenisasi. Soalnya bukan kristenisasi (karena kalau begitu sih, islamisasi bisa jadi soal juga karena mungkin malah lebih masif, terstruktur, dan sistematis melalui institusi negara, sebagaimana dulu Katolik menjadi agama resmi negara pada kekaisaran Romawi). Agama pada umumnya memiliki aspek dakwah, misi, zending, atau apa pun istilahnya. Ini sesuatu yang wajar yang, jika dipersoalkan, malah bisa jadi pemicu perpecahan.

Persoalan sebenarnya ialah maintenance iman kelompok floating mass (massa mengambang, yang imannya gak jelas). Ini juga ada di setiap agama sehingga tak perlu jadi lebay dengan menganggap agama lain sebagai musuh. Ada musuh bersama yang jauh lebih membahayakan: fundamentalisme agama, kemiskinan karena ketidakadilan sosial, dan perusakan lingkungan hidup.

Loh, bukankah kristenisasi tadi adalah contoh fundamentalisme agama yang mesti diperangi?

Betul, tetapi pemecahan persoalan mesti dibuat dalam level yang lebih tinggi dan tak perlu berangkat dari ketakutan atau kekhawatiran yang malah bisa berujung pada wujud fundamentalisme lainnya.

Saya bisa saja melarang keponakan masuk sekolah Kristen supaya ia tidak disusupi ajaran yang tak tepat mengenai dosa, misalnya. Akan tetapi, kalau saya menyatakan hal itu dan kemudian ia betul-betul tidak masuk sekolah Kristen karena saya larang dan ia menurut, dalam dirinya suburlah paham triumvalistik: Kristen sesat, agama pakdhekulah yang benar. Jangka pendek, saya mencapai target, tetapi diam-diam saya menebarkan fundamentalisme dalam dirinya!

Alih-alih takut atau khawatir dan fokus pada kristenisasi, mengapa tak berfokus saja pada keindahan kedalaman ajaran Katolik, Islam, Buddha atau Hindu? Menularkan kedalaman iman tidak bisa dilakukan dengan menjelekkan agama lain karena biar bagaimanapun being religious sekarang ini berarti being interreligious.

5 replies

  1. Sugeng siang rama Andreas. Setelah membaca tulisan ini, saya jadi teringat sesuatu. Bagaimana upaya yang perlu dilakukan para orang tua untuk menanamkan dan memupuk keimanan dalam diri anak-anaknya? Memang tidak perlu membandingkan paham agama, tetapi bukankah para orang tua juga perlu mendidik anak-anaknya dalam ajaran Katolik (misalnya)? Point saya adalah bagaimana mengajarkan hal baik tetapi terhindar dari paham triumvalistik?

    Like

    • Halo Damar, susah menjawab pertanyaanmu; barangkali sikap triumvalistik itu ya mesti muncul dalam dinamika hidup orang, juga karena kategori berpikir manusia mesti menjerumuskan orang untuk membanding-bandingkan satu pokok soal dengan pokok soal lainnya. Karena orang mengejar yang terbaik, lantas mereka yang berbeda cenderung dikategorikan sebagai pihak yang ‘kurang baik’.
      Mungkin ada baiknya ortu memberi teladan tradisi rohaninya sekaligus memperkenalkan tradisi yang berbeda sembari menegaskan hal itu sebagai suatu cara yang berbeda.
      Yang bisa saya bayangkan, ketika bermain bersama, pada saat menjelang maghrib, ortu mengajak saya berdoa di rumah sambil meminta teman yg sedang main di rumah utk pulang dan berdoa bersama keluarganya. Saya krasan dng cara doa yg diajarkan ortu dan saya tahu teman saya juga berdoa dengan cara yg diajarkan ortunya di rumah.

      Like

  2. Anda mungkin menganggapnya sepele karna kasus di atas adalah ktistenisasi bukan islamnisasi.
    Saya sebagai orang muslim sangat tidak terima dengan kejadian tersebut.
    Dan jika anda mengatakan bahwa kristenisasi itu bisa merupakan alat untuk mengukur keimanan kita. Sesungguhnya tak ada satupun manusia di bumi ini berhak untuk mengukur itu. Dan kenapa???? Remaja” muslim yg jadi sasarannya?????.
    Dan coba difikir, jika kondisinya terbalik,, kita yg islamisasi kalian umat kristen.
    Setidaknya agama islam tak sepicik kalian umat kristen. Karena kita memiliki pegangan ayat Laakum dii nuukum waliyadiin yg artinya Bagimu agamamu, Bagiku agamaku
    Jadi Kita agama islam tak pernah mengajak kalian untuk memeluk agama islam.

    Like

    • “Mbak Vania” yang baik, semoga hati “Mbak Vania” tetap damai. Untuk memahami tulisan ini secara utuh, ada baiknya membandingkannya dengan “Islamisasi yes, arabisasi sebaiknya pikir-pikir dulu deh” dan “Kristenisasi yang nonsense“. Saya sendiri tidak menganggap ini sepele dengan tulisan “Ciyus, awas kristenisasi“. Judul posting ini sebetulnya bernuansa sinis terhadap kristenisasi seperti pada car free day itu (saya andaikan peristiwanya benar begitu).
      Saya Katolik tulen (bukan kristen seperti yang “Mbak Vania” kategorikan), dan saya menaruh simpati pada mereka yang menjadi objek kristenisasi dengan cara seperti itu. Rasa saya cara itu agak menjijikkan.
      Mengenai komentar lainnya silakan “Mbak Vania” pikir ulang kembali. Saya rasa, tak banyak membantu pemahaman kita sendiri jika kita sudah punya asumsi bahwa agama lain lebih rendah daripada agama kita (dengan tolok ukur apa juga kita menilainya?)
      Maksud saya dengan alat ukur keimanan di situ adalah alat ukur untuk diri sendiri, bukan alat ukur terhadap agama lain. Misalnya, kalau saya takut gerakan kristenisasi yang menjijikkan itu, jangan2 ketakutan itu muncul karena saya kurang memperhatikan keimanan saudara saya. Saya takut saudara saya ini tertarik oleh iming-iming kristenisasi (karena tahu bahwa dia imannya belum berakar). Saya sendiri, kalau takut pada kristenisasi, jangan2 menganggap bahwa iman itu identik dengan agama, bukan soal relasi dengan Allah sendiri. Hal-hal seperti ini yang saya maksud sebagai alat untuk mengukur keimanan kita. Semoga bisa dipahami.
      Terima kasih berkenan mampir dan berkomentar. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s