Ganti Lensa Biar Bisa Fokus

Ada saja mahasiswa yang susah fokus pada skripsinya karena kerusakan lensanya, entah lensa kacamata ataupun lensa kerangka pendekatan yang terlalu luas. Orang Farisi dalam bacaan hari ini tampaknya juga punya kerangka pendekatan yang terlalu luas, tanpa pembatasan yang jelas. Mereka tanya, kapan Kerajaan Allah itu tiba. Pikir mereka, ada tanda-tanda lahiriah jika Kerajaan Allah itu datang. Jawaban Yesus sederhana: gak ada tanda lahiriah seperti mereka harapkan. Maka, daripada ribut soal kapan, lebih baik fokus pada Kerajaan Allah yang sudah tinggal bersama kita saat ini.

Contohnya ada dalam surat Paulus kepada Filemon. Onesimus adalah budak Filemon yang lari dari majikannya itu setelah mencuri barang-barangnya. Ia lari ke Roma dan ketemu Paulus. Dibaptislah ia oleh Paulus dan setelah sekian lama membantu Paulus yang dipenjara, Paulus memberikan surat rekomendasi bagi Onesimus supaya bisa diterima kembali oleh Filemon.

Nah, surat Paulus inilah yang mengundang Filemon (dan Onesimus) untuk ganti lensa: bahwa relasi Filemon dan Onesimus bukan lagi relasi majikan-budak, melainkan relasi persaudaraan. Keduanya sudah menerima baptisan dan dengan demikian tak ada lagi konsep budak. Akan tetapi, bukan berarti kalau konsep budak itu dihapus lalu dua-duanya jadi majikan. Kalau keduanya jadi majikan, lha siapa pembantunya dong? Ya dua-duanya jadi pembantu juga, kalau begitu!

Kebebasan anak-anak Allah tak menghapuskan kewajiban duniawi. Onesimus tetap kembali membantu Filemon (dan Filemon diminta untuk mengampuni Onesimus). Tetap ada majikan-pembantu, tetapi bukan lagi dengan lensa bos-budak, melainkan dengan lensa saudara yang saling mendukung, saling membantu dalam upaya masing-masing untuk AMDG itu.

Ini berlaku untuk hubungan antara suami dan isteri atau orang tua dan anak. De facto relasi itu tak terbantahkan (anak ya tetap anak), tetapi masih dimungkinkan bahwa kerangka relasinya bukan lagi sekadar kerangka tugas kewajiban, melainkan kerangka persahabatan dalam Tuhan. Hmm…memandang suami, anak-anak, istri, orang tua, tetangga, dan lain-lainnya sebagai sahabat dalam Tuhan?! Kayak apa ya….


KAMIS BIASA XXXII
Peringatan St. Stanislaus Kostka (SJ)
13 November 2014

Flm 1,7-20
Luk 17,20-25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s