Semakin Rohani, Semakin Lembut?

Konon pada zaman primitif orang menulis pada batu dengan benda tajam. Pasti tidak mudah menghapus tulisan seperti itu. Masa kecil saya ada pada tahun 70-an tetapi pada saat itu saya sudah tidak mendapati apa yang dikenal sebagai sabak. Pada usia sekolah baru saya dapati mainan papan tulis kecil yang bisa dicoret-coret dan dengan mudah menghilangkan coretan itu hanya dengan menggeser bilah penghapus. Sekarang ini, secara lebih sederhana dan lembut lagi saya bisa menghapus coretan dari layar iPad.

Barangkali dengan gambaran itu bisa dipahami hukum kerohanian yang berlaku bagi manusia, perkembangan hidup rohani mengarah kepada kelembutan dan bahkan kemudahan: kelembutan dan kemudahan hati! Semakin rohani, hati orang semakin lembut dan mudah menemukan cara untuk mewujudkan kelembutan itu pada aneka situasi.

Bacaan Injil hari ini masih melanjutkan wacana bahwa Kerajaan Allah itu sudah hadir dari waktu ke waktu. Apa yang memungkinkan kehadiran-Nya? Roh, nyawa, jiwa, yang mampu mengatasi aneka bentuk perkembangan dimensi fisik. Jiwa manusia penulis bisa terwujud pada batu, sabak, papan plastik, dan iPad. Jiwa itu tak terkekang atau terlekat pada batu, sabak, papan plastik, maupun iPad (teknologi kiranya akan menemukan medium lain).

Roh pengajar tidak akan musnah hanya karena setelah lulus dari sekolah guru seseorang belum mendapatkan lembaga tempat bekerja. Roh ini dengan lembut dan mudah menemukan cara untuk menguak. Itulah kerohanian. Begitu seterusnya bagi aneka roh lainnya: mereka akan menemukan saluran tanpa terikat pada aneka keterbatasan fisik. Keterikatan roh pada fisik justru akan mematikan daya roh itu sendiri. Tak mengherankan, ketertambatan istri Lot pada yang di belakangnya menghanguskan dirinya: Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya (Luk 17,33).

Maka dari itu, orang perlu lebih hati-hati jika hatinya mengeras. Kata-kata yang semakin keras mungkin memang tak mengenakkan, tetapi jauh lebih membahayakan keselamatan jiwa jika asalnya dari hati yang keras!
Hati macam ini tak mampu memenuhi saran bacaan pertama untuk  hidup dalam cinta.


JUMAT BIASA XXXII
14 November 2014

2Yoh 1,4-9
Luk 17,26-37

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s