Berdoa Kagak Kenal Cape’

Sebenarnya Kerajaan Allah dan stafnya itu sadis juga ya. ‘Mereka’ menuntut orang yang mau bergabung ke dalamnya supaya senantiasa berjaga-jaga. Perumpamaan pada bacaan hari ini mengajarkan perlunya berdoa tanpa kenal lelah. Dikisahkan bahwa semangat tiada henti ini menggoyahkan bahkan hakim yang kafir dan tak punya rasa hormat kepada orang lain. Daripada terus menerus mengganggu karena tiada henti memohon, dah diselesaikan aja kasusnya sehingga hidup hakim itu lebih tenang!

Kiranya Tuhan tidak memerlukan ketenangan seperti diinginkan hakim kafir itu. Ia justru menginginkan umat-Nya tiada henti berdoa sehingga pada saat kedatangan-Nya untuk menghakimi manusia, didapati-Nya umat yang tetap berjaga sampai akhir.

Lah, mosok iya berdoa terus sampai kiamat? Emangnya gak kerja cari makan apa?!

Hmm… kalo mikirnya begitu, berarti masih pake pola pikir linear: doa dan kerja diletakkan sebagai juxtaposition. Artinya, banyak waktu doa berarti sedikit waktu kerja dan, sebaliknya, semakin lama bekerja, semakin tak punya waktu untuk berdoa.

Doa terus menerus yang dimaksudkan di sini tolok ukurnya bukan kesalehan pribadi atau kesucian narcisistik, melainkan sikap batin yang senantiasa tertambat pada sumber kesucian itu sendiri. Itulah iman. Maka dipertanyakan di akhir bacaan apakah didapati iman di bumi ini. Staf Kerajaan Allah itu entah cepat atau lambat akan datang dan yang penting bahwa saat Dia datang, umat dalam status ‘beriman’.

Beriman tidak berarti bahwa dia sedang di gereja atau masjid, sedang berlutut atau bersujud, beribadat, dan aktivitas kultis lainnya. Beriman berarti bahwa setiap nafas hidupnya adalah perwujudan ketergantungan dan syukur kepada Allah. Karena itu, doa orang suci tidak mengurangi waktu kerja, melainkan memberi kualitas pada kerjanya. Sebaliknya, kerja orang suci tidak meniadakan waktu doanya, tetapi justru menyempurnakan, mengutuhkan, mewujudkan doanya.

Dua puluh lima tahun lalu, kurang sehari, Ignacio Ellacuria bersama lima rekan yesuit, seorang wanita yang bekerja di rumah yesuit itu beserta seorang anak perempuannya, dibantai oleh militer elit El Salvador. Kenapa? Karena tak henti-hentinya para yesuit itu mempromosikan keadilan. Mereka tidak mati saat sedang beribadat, mereka juga bukan orang lapangan (meskipun tak berarti terputus dari lapangan), tetapi jelaslah kerja akademis mereka sungguh berkualitas, membuat doa-doa mereka paripurna… Mereka bukan pembela agama; iman mereka membela keadilan sosial yang berlaku bagi semua.


SABTU BIASA XXXII
15 November 2014

3Yoh 1,5-8
Luk 18,1-8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s