Kepada Para Pembela Agama dan Tuhan

Ada seorang tokoh pada awal abad ke-16 yang sejak masa mudanya terkenal pemberani. Ia ini orang Basque yang punya harga diri lebih tinggi dari suku-suku lain yang ada di Spanyol. Tokoh kita ini sejak kecil tidak asing dengan pertarungan, dan dia pula yang berhasil memompa semangat puluhan tentara kotanya untuk melawan ratusan tentara Perancis. Teman-temannya sebetulnya sudah mengerti bahwa mereka (akan tetap) kalah dan mereka cenderung menyerah, bukan karena takut, melainkan karena hitungan rasional tidak masuk pada akal perlawanan mereka. Tokoh kita memimpin perlawanan itu sendiri sampai akhirnya ia sendiri terluka fatal. Tentara Perancis merawat tokoh kita ini dan mereka angkat topi atas sifat ksatrianya. Ia bernama Iñigo.

Setelah kejadian itu, Iñigo mengalami pertobatan radikal dan ia menjadi seorang musafir yang luar biasa. Ia menyerahkan segala kekayaan diri, status keluarga, dan cita-cita mulianya untuk mengabdi pada keluarga Raja Spanyol saat itu. Ia mengabdi Raja yang sesungguhnya, yaitu Tuhan sendiri.

Suatu saat dalam proses pertobatannya, Iñigo berjumpa dengan seorang Mor dalam perjalanan dengan tunggangan semacam keledai. Selama dalam perjalanan bersama itu, tokoh kita terlibat dalam sebuah pokok perbincangan yang membakar hatinya. Orang Mor itu menyatakan posisinya bahwa ia percaya saja Bunda Maria itu melahirkan anak dalam keadaan perawan, tetapi setelah kelahiran anaknya itu, ia tidak yakin bahwa Bunda Maria tetap perawan.

Iñigo berupaya menjelaskan semampunya kepada orang Mor itu bahwa Bunda Maria tentu tetap perawan bahkan setelah melahirkan anaknya. Akan tetapi, orang Mor itu tetap teguh pada keyakinannya sampai akhirnya mereka berpisah di persimpangan. Blaiiiikkkkk, darah mendidih di hati Iñigo karena ia gagal meyakinkan orang Mor itu. Lebih dari itu, ia menganggap omongan orang Mor itu adalah penghinaan bagi Bunda Maria. Ia pun bingung mengenai apa yang harus diperbuatnya.

Apakah ia harus mengejar orang Mor itu dan membunuhnya karena telah mencemarkan nama baik Bunda Maria? Apakah ia membiarkan saja pencemaran itu kelak akan menyebar luas? Iñigo tidak bisa melakukan proses pengambilan keputusan yang menentramkan hatinya. Di tengah kegalauan hebat itulah ia menyerahkan pilihan pada binatang yang ditungganginya: kalau tunggangannya ini di persimpangan nanti berbelok ke arah yang mendekati tempat orang Mor itu berjalan, Iñigo akan mengejar orang Mor itu dan membunuhnya; kalau tidak, ia akan membiarkan orang Mor itu dan ia melanjutkan perjalanannya sendiri.

Tunggangan Iñigo mengambil jalan yang menjauh dari arah perjalanan orang Mor itu.


Dogma mengenai Bunda Maria, yang merupakan bagian dari agama (Katolik) rupanya bukan hal yang layak dipertahankan, mengatasi nyawa manusia. Bunda Maria tidak memerlukan pembela. Begitu juga dengan agama; agama tidak butuh dibela (apalagi Tuhan, Dia lebih lagi tidak butuh pengacara! Justru Dia yang membela kita). Jika kata pembelaan itu masih juga dipertahankan, pembelaan itu seyogyanya  dimaknai sebagai pengamalan nilai-nilai agama yang memberikan kontribusi bagi kemanusiaan.

Nah, justru kemanusiaan itulah yang perlu dibela.
Halah, kemanusiaan itu kan kata abstrak! Betul! Mau yang konkret?
Wajah kemanusiaan konkret ada pada buruh migran yang tertindas, para pengungsi yang terkatung-katung, para pengusaha kecil yang terteror rentenir, para korban kerakusan pejabat, orang-orang yang terlindas oleh struktur yang tak adil dan korup!

Singkatnya, keadilan perlu ditegakkan di setiap sudut kehidupan manusia! Dengan cara itulah agama dan Tuhan bisa dibela. Jika kita berpikir membela agama bisa dilakukan dengan menghabisi nyawa manusia, percayalah, penganut agama kita (apapun itu) yang lainnya akan menanggung malu karena mereka begitu yakin bahwa agama mereka adalah agama damai tetapi nyatanya bisa dipakai sebagai basis untuk melakukan kekerasan!

Semakin banyak orang sadar bahwa agama bisa dibajak dan pembajak itu adalah orang yang paling santer menyatakan diri sebagai pembela agama (dan pembela Tuhan)! Maka dari itu, begitu mengklaim diri sebagai pembela agama, segeralah awas, justru hal lainlah yang sedang kita bela: kepentingan diri, partai, ekonomi, politik….

Kepentingan politik, uruslah secara politis; kepentingan ekonomi, aturlah dengan kaidah-kaidah ekonomi, kepentingan hukum, tatalah dengan prosedur hukum; semuanya itu dijalankan dengan prinsip keadilan yang diharapkan merasuki setiap sudut kehidupan. Agama bisa memberi pandangan mengenai keadilan, tetapi tak perlulah diseret mentah-mentah ke dalam ranah politik, ekonomi, hukum, budaya karena realitasnya jelas tak terbantahkan: lima milyar manusia tak mungkin diseragamkan! Dunia ini plural brow… sikap yang tepat dalam masyarakat plural ini bukan keras ke luar tapi lunak ke dalam, melainkan keras ke dalam dan lembut ke luar.

Semakin tajam ke dalam, orang tidak setengah-setengah dalam menghayati agamanya, dan kalau ini memberi kontribusi positif dalam masyarakat, tanpa memaksa orang lain, ia akan memberi kesaksian positif bagi orang lain untuk mengikutinya (meskipun tidak selalu berarti berpindah agama)!

Sebaliknya, semakin keras ke luar dan memble ke dalam, sekeras apapun teriakannya, sebanyak apapun korbannya, tak akan menimbulkan simpati orang lain!

11 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s