Gusti Allah Gak Perlu Dibela! Biarin Aja

Entah dari mana potongan dari klip video ceramah Kyai Gus Nuril ini, tetapi isinya membuat saya teringat pada posting mengenai omong kosongnya pembela agama dan Tuhan. Bisa jadi, mereka yang mengklaim diri sebagai pembela agama maupun Tuhan adalah justru yang melecehkan agama dan Tuhan sendiri. Ini sudah tampak benihnya ketika salah seorang murid Yesus yang temperamental dan menggebu-gebu untuk melindungi Yesus adalah justru yang secara eksplisit menyangkal relasinya dengan Yesus sendiri.

Cuplikan ceramah itu juga mengingatkan beberapa hal:

  1. Dalam sejarah dunia, Allah senantiasa punya cara untuk menata ciptaan-Nya yang carut marut: lewat para nabi, lewat tokoh-tokoh sejarah pembawa damai, melalui suara kritis orang terhadap kekuasaan, kekerasan dan sebagainya. Tokoh-tokoh ini tak pernah mengklaim bahwa mereka mahakuasa. Hanya manusia-manusia nan arogan yang mengklaim diri atau partainya sebagai satu-satunya agen yang bisa mengambil alih peran Allah tersebut.
  2. Dalam ajaran sosial Gereja Katolik ada prinsip solidaritas dan subsidiaritas yang menjadi rambu apakah kekuasaan dijalankan secara proporsional: negara harus intervensi pada hal-hal yang tak mungkin diurus oleh agama (soal tata tertib keamanan, pelanggaran HAM) tetapi sebaliknya tak boleh campur tangan pada hal-hal yang bisa ditangani oleh agama sendiri (kemurnian ajaran, misalnya). Maka dari itu, sebetulnya ironis bahwa negara menentukan agama resmi atas dasar Ketuhanan yang Maha Esa. Tuhan yang Maha Esa itu punya kebebasan dan negara pun mestinya memberi kebebasan kepada warga untuk menghayati keyakinannya sendiri, bahkan untuk berganti keyakinan sekalipun. Baru jika ada unsur pemaksaan/kekerasan yang mendorong pergantian keyakinan itu sewajarnya negara intervensi.
  3. Sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa rupanya tidak bersifat tunggal, seturut cara pandang masing-masing agama: Allah, Bapa, Sang Hyang Widi. Perbedaan ini bisa membuat ricuh jika masing-masing pemeluknya tak memahami titik persamaan dan perbedaan dalam setiap agama. Orang bisa saja berpandangan bahwa orang Kristen mempertuhankan Yesus karena mereka mengungkapkan doa dengan sebutan Tuhan Yesus (Kristus). Orang juga bisa beranggapan bahwa orang Hindu tidak memercayai Tuhan yang Maha Esa karena mereka menyembah beberapa dewa.

Bisa jadi bahwa konflik horisontal antar pemeluk agama disebabkan oleh dua faktor. Vertikal: perbedaan agama yang potensial bagi konflik dipolitisir, dijadikan komoditas untuk perebutan kekuasaan. Horisontal: pemeluk agama tak PD dengan agamanya sendiri sehingga mesti setiap kali memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang agamanya. Orang tidak merasa tenang bersyukur mengalami perubahan paradigma hidup dan semakin tafakur pada Allah, tetapi malah menjelek-jelekkan agama yang, menurut penilaiannya sendiri, pernah dihayatinya.

2 replies

  1. Piye yo carane agar pendidikan kita itu bisa melahirkan manusia-manusia yang bener? Piye yo carane agar keluarga-keluarga di Nusantara ini melahirkan manusia-manusia yang bener? Kiro-kiro modal Latihan Rohani St.Ignatius cukupkah untuk memulainya?

    Like

    • Pak Sanusi, saya kira revolusi mental Jokowi (?) bisa dimulai dari mana-mana kok. Semua orang punya modal mestinya… yg beda itu niat/kehendak/gregetnya… Ignatius menawarkan itu dengan teladannya (meskipun pengikutnya belum tentu juga punya kehendak kuat spt itu haha)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s