Cinta Mengurai Benang Kusut

Dalam suatu tahap hidup kita, bisa jadi identifikasi terhadap sosok Marta dalam kisah Injil hari ini lebih kuat (juga simpati terhadap anak sulung dalam perumpamaan mengenai anak hilang, Luk 15,11-32) daripada  simpati terhadap sosok Maria yang ‘hanya’ duduk mendengarkan Yesus. Rasionalisasinya macam-macam: cinta lebih diwujudkan dengan perbuatan daripada kata-kata, solidaritas menuntut suatu kerja, dan sebagainya.

Dalam hidup sehari-hari pun bisa dilihat bagaimana orang terokupasi oleh hal-hal yang memang baik, tetapi bukan yang pokok. Orang-orang tertentu bisa asik dengan hal-hal tertentu yang membutuhkan banyak waktu dan mengira bahwa yang digelutinya itu adalah hal penting dan menjadi perhatian banyak orang: harus begini, harus begitu, dibeginikan supaya orang nanti begitu, dan seterusnya. Orang bisa kehabisan waktu bahkan untuk memikirkan kekhawatiran dan kecemasannya sendiri sehingga seolah-olah hidupnya semakin kusut.

Pengalaman Marta dan Maria bisa diterangi oleh pewartaan Paulus yang menuturkan pengalaman perubahan hidupnya dari seorang penganiaya ulung jemaat Kristen menjadi rasul yang ulet. Ia tidak dipusingkan dengan aneka pikiran mengenai reaksi orang-orang lain terhadap dirinya: …waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia (Gal 1,15-16). 

Pertimbangan manusiawi belaka membuat kekusutan, hidup bagai labirin (banyak jalan buntu). Pikiran mengenai apa kata orang tentang diri juga malah bisa menyesatkan. Yang penting orang mendengarkan Sabda yang tertanam dalam hatinya. Pokoknya bukan semakin kelihatan sibuk kerjanya demi kekuasaan, demi kompetensi, demi image, demi menyenangkan orang lain, melainkan semakin mengendapnya pikiran dalam batin yang menghubungkan antara Sabda Allah dan tindakan seseorang.

Pada saatnya orang akan merasakan perbedaan antara saat hidupnya terus disibukkan oleh aneka tarikan pertimbangan manusiawi dan ketika dalam kesibukan sehari-harinya orang benar-benar mendengarkan Sabda Allah dalam hatinya. Maria dan Paulus mengambil bagian terpenting dan kekusutan benang hidup terurai. Apakah bagian terpenting itu? Jangan tertawa ya: cinta! Orang boleh bersibuk ria dengan apapun, tetapi kalau ia tidak punya fokus pada yang satu itu, kesibukannya tak bernilai, kekusutannya tak terurai…

Sudahkah Anda minum cinta hari ini? Huaaaa…..


SELASA BIASA XXVII A
Peringatan Wajib SP Maria, Ratu Rosario
7 Oktober 2014

Gal 1,13-24
Luk 10,38-42

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s