Cuma Bensin yang Bisa Murni?

Kepenuhan hukum terealisasi dalam tindakan cinta. Itu sudah jelas. Kalau orang tidak mengerti pernyataan itu, bisa jadi ia tidak mengerti maksud dibuatnya hukum, bisa juga ia tak memahami cinta. Mengerti hukum saja tanpa landasan cinta akan menjerumuskan orang pada sikap legalistik sehingga hukum pun jadi mati. Mengerti cinta saja (mana mungkin?) tanpa respek terhadap hukum mengantar orang pada anarki, hidup sak penak wudele dhewe seturut harga diri yang dibangunnya sendiri (lha malah gak cocok dengan cinta dong).

Meskipun kadang tampak membiarkan murid-muridnya melanggar hukum Sabat misalnya (Mat 12,1-8), Yesus tidak semata-mata pembangkang, asal melawan hukum dan aturan. Saya kira ia juga tidak menentang ahli Taurat karena mereka menguasai hukum. Justru itu baik, dan Yesus pun menegaskan bahwa ia tidak hendak menghapus hukum yang sudah lama dikenal orang Yahudi (Mat 5,18). Yang dikritik Yesus bukan hukumnya sendiri, melainkan bagaimana orang memperlakukan hukum.

Bacaan pertama kiranya memberi kesaksian positif: nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya… kami tidak pernah bermulut manis. Kalau orang tak bermulut manis dan intensinya murni, politiknya pun tidak muluk-muluk (meskipun sangat sulit digapai): supaya hukum itu sungguh-sungguh mengabdi kepentingan cinta yang lebih universal. Akan tetapi, pada kenyataannya sebagian orang memanfaatkan hukum untuk mencari atau menunjukkan kekuasaan. Ada juga yang memakainya untuk bisa lari dari tanggung jawab sosial atau memperalat hukum supaya bisnisnya makin kokoh.

Yesus betul-betul gemes melihat ahli-ahli hukum yang bermulut manis tetapi rasa keadilannya hambar. Mereka ini memanfaatkan hukum untuk menahbiskan diri mereka sebagai orang saleh, suci, baik, pembela agama, pembela Gereja, pembela Vatikan, bahkan pembela Tuhan. Tentu, niat atau intensi itu pada dirinya sudah problematis. Kalau mau suci, saleh, membela agama, dan lain-lain itu orang justru mestinya memanfaatkan hukum sebagai realisasi cinta universal, bukan untuk membela kepentingan narsis kelompok tertentu.

Tuhan, jadikanlah hatiku murni dalam menaati hukum-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA XXI B/1
25 Agustus 2015

1Tes 2,1-8
Mat 23,23-26

Posting Tahun Lalu: Mobil Keren Mental Kere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s