Mobil Keren, Mental Kere

Ada orang yang senang dengan perkara-perkara kecil sampai-sampai ia malah lupa perkara besar. Tidak sedikit orang bersibuk ria dengan aksesori dan malah abai terhadap substansinya. Pelajar atau mahasiswa misalnya, mereka menginvestasikan jauh lebih banyak waktu untuk mencari variasi animasi untuk slide transition daripada membahas materinya sendiri. Ada orang yang begitu perfeksionis untuk layout sedemikian rupa sehingga isi yang ditatanya malah sekadar copy-paste dari materi yang tak dikuasainya. Kesesatan-kesesatan seperti itu masih bisa dimengerti karena kecenderungan darah muda yang meluap-luap: pokoknya gertakan awal dulu, starting of fire, selebihnya terserah Anda…

Akan tetapi, rupanya ada juga orang yang usianya semakin subur tetapi perhatiannya masih mandheg (berhenti) pada aksesori dan tampilan luar! Itulah yang dikecam Yesus hari ini: perfek dalam hal sepele, tetapi mengabaikan prinsip! Orang-orang Farisi dan ahli Taurat begitu taat pada kewajiban-kewajiban hukum yang kecil-kecil tetapi mengabaikan persoalan hukum yang lebih besar. Soalnya bukan bahwa perkara-perkara kecil itu jelek. Berpuasa dua kali seminggu dan membayar persepuluhan (Luk 18,12), misalnya, tentu tidak jelek. Akan tetapi, mereka bisa menyalahgunakannya untuk kepentingan narcisistik (dan karena itu disebut munafik) dan bahkan melakukannya untuk menghindari prinsip utama yang bisa jadi menuntut lebih besar.

Mereka punya 10 perintah Allah yang diterjemahkan ke dalam 248 perintah dan 365 larangan, tetapi tak punya perhatian untuk reading between the lines, alias tidak memperlakukan hukum itu untuk mengantar pada hal yang lebih besar: relasi antara hati manusia dan Allah. Mereka sudah puas asal menjalankan detil-detil hukum tanpa peduli dengan konteks hidup aktual yang mungkin membutuhkan tanggapan berbeda demi mewujudkan cinta Allah sendiri. Orang bisa saja menahan nafsu makan-minum selama berpuasa, tetapi puasanya hanya menjadi diet jika selama puasa itu ia tak berpasrah kepada Allah dan malah menunjukkan hasrat kuasa. Bukan puasa, malah kuasa.

Surat kepada umat di Tesalonika berisi nasihat supaya umat beriman teguh pada perkara-perkara besar: kabar gembira mengenai iman akan Allah dan kasih kepada sesama. Dalam dunia yang penuh godaan ini umat beriman perlu sedikit asketis (istilah lain self-denial) untuk sungguh berpasrah diri pada Tuhan. Bayangkanlah Anda melihat dari jendela mobil mewah yang meluncur di jalan keluar sampah bungkus makanan, tissue, plastik dan lain-lainnya: aksesori keren, mentalitasnya feodal! 

Mobil-Mewah-isi-premium-Ist
Semoga aku semakin tulus menghayati imanku dan terbebas dari kebodohan, kebutaan, kemunafikan, formalisme, dan legalisme yang menjadi skandal bagi sesama untuk mengalami kasih Tuhan. Amin.


SELASA BIASA XXI
26 Agustus 2014

2Tes 2,1-3.13-17
Mat 23,23-26

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s