Roman Collar, Wow….

Menurut salah satu Kitab Suci, menyentuh mayat dan makam itu bikin orang najis. Karena itu, labur putih banyak dipakai supaya mereka yang berkunjung ke makam tidak bersentuhan langsung dengan makam, hi najis!!! Dalam keyakinan itu, apa yang ada di dalam makam tentunya mengandung tingkat kenajisan yang paling besar. 

Nah, jebulnya, gambaran mengenai labur putih itu oleh Yesus disematkan pada orang-orang yang secara teoretis seharusnya menghindarkan diri dari kenajisan, “Kamu itu munafik, seperti kuburan yang dilabur putih!” Kalau itu dimodifikasi pada perempuan-perempuan pesolek kira-kira gimana ya? Di depan kamera, di depan penggemar, polesannya canggih, tanpa polesan jadi ancur. Tapi teks ini tentu tidak omong soal kosmetik labur putih. Kritikannya jelas, masih lanjutan yang kemarin: munafik!

Sejujurnya, saya tidak anti roman collar. Saya punya roman collar, tetapi baru saya pakai beberapa kali di Roma ketika saya mesti membuat KTP sementara di Roma dengan pas foto yang menunjukkan identitas diri sebagai imam. Roman collar jadi identitas pastor Gereja Katolik. Akan tetapi, sekarang hal itu bisa dipertanyakan karena yang memakainya bukan lagi pastor Gereja Katolik. Frater (calon pastor Katolik) bisa memakainya, pendeta Kristen juga memakainya. Yang lebih menarik, bahkan roman collar itu juga bisa dipakai oleh maling!!! [Jangan-jangan malah yang memakai roman collar itu maling: maling waktu, maling duit, maling istri orang, haha…]

Di situlah persoalan yang dilihat Yesus: ketaatan kepada hukum agama pun bisa jadi tanda kuat kemunafikan orang. Ini bisa mengenai siapa saja yang silau dengan identitas ala kosmetik: menjalankan ibadah karena orang-orang lain juga begitu, pergi berziarah ke negeri jauh karena orang-orang hebat itu juga ke sana.
Lha, Romo, kalau Romo gak pakai roman collar, mana orang lain tahu bahwa Romo itu pastor (Katolik)? Saya balik, dari mana saya tahu bahwa orang ber-roman collar itu bukan maling? Kayak serba salah ya. Yo enggak sih. Mau pakai ya pakai saja, gak mau pakai ya gak usah pakai. Tak usah rumit-rumit membahasnya, ini cuma soal teknis (entah teknis penipuan atau teknis screening), tak terhubung langsung secara logis dengan identitas seseorang sebagai imam Katolik. 

Secara psikologis, orang yang memakai roman collar dituntut untuk berperilaku sebagai seorang imam (Katolik)… lagi-lagi, bahkan penipu pun dituntut untuk berperilaku sebagai imam (Katolik), hahaha….
Haaaa, berarti Romo yang gak pakai roman collar itu gak mau dituntut berperilaku sebagai imam (Katolik), bukan? Biar lebih bebas berperilaku seperti apa yang dia mau! Lha iya sumonggo kalau Anda melihat bahwa jadi imam (Katolik) itu merupakan kekangan. Saya sih tidak mengalami seperti itu.

Ketaatan kepada hukum agama yang dihidupi orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu rupanya dilihat sebagai labur putih: kejahatan mereka terhadap pembawa kebenaran tetap terpelihara. Mereka membangun makam untuk para nabi yang menyodorkan kebenaran ilahi; itu berarti secara implisit mereka mengakui sebagai keturunan pembunuh para nabi, bukan? Itu terjadi juga sampai kemudian mereka membungkam Yesus sendiri dengan salib. Semoga semakin banyak pemakai roman collar yang berani menanggung salib, dan bukannya petentang-petenteng menambah beban salib orang lain. Tentu, ini bukan cuma soal roman collar, berlaku bagi penggemar kalung, anting, cincin dan lain sebagainya yang erat dengan atribut salib.

Tuhan, semoga sabda-Mu saja yang berdiam di kedalaman hatiku dalam setiap pekerjaanku. Amin.


HARI RABU BIASA XXI B/1
26 Agustus 2015

1Tes 2,9-13
Mat 23,27-32

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s