Inikah Identitas Imam?

Topik obrolan ini bermula dari pertanyaan mengenai roman collar, yang di Indonesia sekarang sudah dipadukan dengan pakaian bermotif batik bagi para imam. Saya pernah punya hem khusus untuk para imam dengan roman collar pada bagian depan krah. Saya pakai tiga kali: satu kali dalam perjalanan menuju Napoli untuk ikut konselebrasi perayaan ekaristi di dekat Napoli dan dua kali di photo booth untuk dokumen kartu pengenal imam. Setelah itu saya tak berminat lagi untuk memakainya.

Saya tidak membenci roman collar tetapi saya juga bukan penggemarnya. Loh, tapi Romo kan imam?! Ya, tetapi identitas imam tidak saya letakkan pada roman collar. Saya ingat betul sewaktu saya ke Aversa (utara Napoli) untuk ikut konselebrasi bersama uskup dan imam-imam lainnya untuk suatu perayaan besar. Saya datang dengan mengenakan hem dengan roman collar dan berkumpul bersama konselebran lainnya di ruang sakristi (atau sangkristi menurut lidah beberapa orang pedesaan).

Semua yang ada di ruangan itu mengenakan hem dengan roman collar. Tidak sedikit yang kelihatan masih muda, pasti lebih muda dari saya, yang mungkin saja baru tahbisan tahun itu. Setelah tiba soal pengaturan teknis, seorang imam muda mendekati saya dan bertanya,”Kamu imam jugakah?”

Saya benar-benar heran dengan pertanyaan itu. Jelas ia bisa melihat roman collar pada krah baju saya, kenapa melontarkan pertanyaan seperti itu?! Saya jawab bahwa saya imam; lalu ia mulai menjelaskan posisi dan tugas saya dalam konselebrasi itu.

Setelah selesai, karena penasaran, saya melontarkan pertanyaan kepadanya,”Omong-omong, kamu juga imam, bukan?” Heran saya jauh lebih dahsyat dari heran sebelumnya karena ia menjawab,”Bukan!”
“Loh, kok kamu pakai colletto romano?” tanya saya.
Jawabnya, “Ya, saya seminaris.” (dalam tahap belajar menjadi imam)

Oalah, jebulnya…

*****

Kotbah Paus Fransiskus ini saya kira tak hendak mengatakan bahwa studi teologi itu gak penting (wong dia berkotbah itu juga setelah menyelesaikan studi teologi kok!). Identitas sejati orang kristiani tidak terletak pada yang formal: gelar yang diperoleh dari studi teologi atau jabatannya dalam Gereja (pastor, uskup, paus, koster, dan sebagainya). Identitas kristiani berasal dari Roh yang menggerakkan sendi-sendi kehidupannya. Maka dari itu, jika saya sadur, kotbah Paus itu berbunyi: teologi, liturgi, kotbah, kuliah teologi tanpa dasar doa adalah omong kosong.

Kalau studi teologi dengan gelar akademik (yang menuntut keterlibatan hidup orang kristiani) saja tidak menjadi dasar identitas orang kristiani, apalagi colletto romano yang bisa dipesan dan diberikan kepada siapa saja dalam waktu singkat! Identitas imam tidak muncul dari roman collar, melainkan dari keakrabannya dengan Allah dan bersamaan dengan itu, keprihatinannya pada dunia. Loh, semua orang kan dipanggil untuk seperti itu? Ya memang, maka Gereja Katolik mengenal imamat umum, yang berlaku untuk seluruh umat: menyucikan hidup di dunia ini.

Para pastor memiliki hakikat dan derajat fungsi imamat yang lebih ‘tinggi’ atau mendasar: memberdayakan imamat umum. Yang lebih tinggi bukan derajat pribadi imam atau pastor, melainkan derajat fungsi dan hakikat imamatnya! Jadi, identitas imam pasti tidak terletak pada roman collar atau jubah putih/hitamnya, tetapi pada bagaimana ia menjalankan fungsi sehingga sesamanya bisa turut menyucikan hidup duniawi ini.

Mungkin diperlukan kartu tanda pengenal imam? God knows.

3 replies

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s