The Art of Seeing

Konon, ketika berjalan-jalan di pinggiran kota Florence (lah… Florence lagi), Michelangelo mendapati bongkahan marmer di tengah sampah berlumpur. Ia berhenti dan terpesona memandangnya. Orang-orang di sekitar Michelangelo juga terpesona, bukan oleh bongkahan marmernya, melainkan oleh keterpukauan Michelangelo atas marmer itu. Betapa tidak, mereka gak habis pikir, bongkahan marmer itu begitu kotor dan tak berbentuk. Apanya yang menarik!
Michelangelo memberi penjelasan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya: “Dalam bongkahan marmer ini ada malaikat, dan saya akan memberinya sayap.” Michelangelo membawa bongkahan marmer itu pulang dan membuat salah satu dari masterpiece-nya.

*****

Barangkali silsilah Yesus dan Maria adalah seperti tumpukan sampah dan lumpur. Ada sekian nama dalam silsilah yang kisah hidupnya diwarnai dengan skandal dan pelanggaran keadilan Allah. Akan tetapi, Allah sanggup merealisasikan kemungkinan kreasi yang spektakular dari tumpukan sampah dan lumpur itu!

Bacaan pertama merupakan nubuat akan hadirnya pemimpin besar dari Betlehem, kota terkecil dari Yehuda, dari perempuan bernama Maria. Kelahiran Bunda Maria ini mempersiapkan fase baru dalam penyelamatan dan tampaklah dinamika keselamatan Allah itu: buluh yang terkulai tak dipatahkan-Nya (Yes 42,3) dan bahkan Ia menjadikan batu yang sudah dibuang oleh tukang bangunan sebagai batu penjuru (Mzm 118,22). Begitulah Allah sebagai artis: Ia menciptakan kebaikan dari situasi yang tampaknya hopeless. Bunda Maria dan Yesus menjadi ‘sayap’ yang memperindah ciptaan.

Ada tak sedikit kelompok orang yang menghakimi generasi pendahulunya, meratapi sejarah keluarganya, membenci sejarah kelam hidupnya, tak terima sisi rapuhnya sendiri, dan benar-benar tak mau mengimitasi cara pandang Allah sebagai artis yang kreatif, yang melihat suatu kemungkinan hidup yang lebih baik dan indah, serta merealisasikannya. Orang seperti ini akhirnya hanya menjadi pemimpi (atau tepatnya pelamun) dan bahkan perusak keindahan!

Ya Tuhan, bantulah aku supaya mampu memandang dengan cara pandang-Mu segala kerapuhan dan keterbatasanku, melihat kemungkinan yang lebih baik dan merealisasikan dalam hidupku. Semoga aku dapat menjadi ‘sayap’ yang melengkapi ciptaan-Mu. Amin.


PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
(Senin Biasa XXIII A/2)
8 September 2014

Mi 5,1-4
Mat 1,1-16.18-23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s