Florence lagi…. Florence lagi…

Saya belum pernah tidur di atas Florence (springbed Italia). Lha, sebagaimana belum bisa merasakan nyamannya Florence, saya pun belum bisa merasakan apa yang dirasakan Florence sehingga muncul judul Florence: Saya Berharap Warga Yogyakarta Cerdas, Tidak Terprovokasi. Barangkali itu plintiran wartawan; dan jika demikian, Herianto Batubara via Detiknews pantas disikilidiki. Akan tetapi, saya menaruh kepercayaan bahwa memang kata-kata itu diungkapkan Florence.

Pernyataan itu dilontarkan setelah Florence menyampaikan maaf, yang disinyalir tidak tulus (wong masih menyalahkan pihak yang menyebarkan dan mendramatisir… meskipun memang pihak itu ikut bersalah). Tetapi apakah Kak Flo sadar bahwa pernyataan kedua ini meragukan pernyataan maafnya dan semakin menegaskan penghakimannya terhadap warga Yogyakarta? Mari menganalisis secara bodon (ala orang bodoh saja).

F: “Kamu tolol, miskin, gak berbudaya!”
W: “Sialan lu maki-maki gue tolol!”
P: “Tuntut aja ke pengadilan, Bang!”
W: “Gue aduin ke MK lu ye!”
F: “Waduh, maap, gan!”
W: “Maap mah gampang, tapi hukum tetap jalan.”
F: “Jangan terprovokasi dong, gan. Cerdas dikit kenapa!”

Artinya, si F ini memang menghakimi W belum cerdas…… alias masih tolol!

Bagi Florence dalam situasi seperti ini sebenarnya silence is golden. Semakin buka mulut malah bisa-bisa yang keluar boomerang. Lebih baik yang omong seperti itu adalah pihak ketiga yang setidaknya minim kepentingan. Bayangkanlah Anda menampar orang dan orang itu marah, lalu Anda menamparnya lagi “Jadi orang tuh sabar sedikit kenapa sih?!” Plakkkk!

*****

Sebenarnya saya malu juga menulis soal seperti ini, meskipun saya tak takut dianggap ngefans Florence, haha. Saya memang belum (bisa) punya empati terhadapnya meskipun membencinya juga tidak. Cuma sedikit berpikir mungkin uneg-uneg ini ada gunanya. Maka, uneg-uneg ini tak perlu diplintir sebagai ungkapan kebencian kepada Kak Flo. Ini untuk pembelajaran bersama sebagai orang yang sama-sama bodoh. Dalam ilmu tafsir atau hermeneutika ada yang disebut sebagai trajectory: lintasan makna yang melampaui maksud pengarang. Maksudnya minta maaf, jebulnya malah menusuk orang yang dimintai maaf karena si pengujar tak menangkap struktur dan konteks relasi. Ini juga bisa dimasukkan dalam kelompok orang yang kurang mampu berempati seperti saya.

Saya ingat status Facebook teman SMA saya yang pantas dicamkan. Selain kota Firenze dan springbed, Florence baginya ialah sebuah sindrom yang cukup serius tentang anak muda urban yang “salah asuhan” dalam budaya instan (baik melalui gadget maupun makanan). Anak muda seperti ini sulit memahami proses dan konteks sehingga kapasitasnya untuk beradaptasi begitu terbatas, dan ujung-ujungnya tak mampu berempati (wah… kayak saya dong). Konon, harga diri anak seperti ini begitu tinggi sehingga ia pikir dirinya adalah satu-satunya orang yang perlu diutamakan, diperhatikan, dan dilayani terlebih dulu dalam aneka macam hal. Karena itu, bisa dimaklumi bahwa anak muda seperti ini beranggapan bahwa yang salah selalu berasal dari luar dirinya, bukan dari dirinya. Individualisme ala urban seperti ini tampak menonjol dan pendidikan tinggi pun bukan jaminan supaya tuturannya lebih santun dan tertata. Pribadi macam ini tak terlatih menggunakan teknologi media sebagai sarana kebaikan bersama, bukan umpatan atau curahan hati (yang sebenarnya tak relevan bagi konsumsi publik), apalagi memaki.

Syukurlah, dengan analisis itu pelan-pelan saya bisa berempati dengan Florence: Ya Tuhan, kasihanilah kami manusia-manusia rapuh ini.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s