Kata-katanya bijak, ujung-ujungnya duit

Aku berkata-kata dan menyampaikan warta bukan atas dasar kata-kata bijak yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu tidak bergantung pada hikmat kebijaksanaan manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Saya punya seorang teman dari Brazil yang menyelesaikan studi doktoral filsafatnya di Roma. Ini tak mengherankan karena orang dari segala penjuru dunia bisa menempuh studi filsafat di sana. Karena saya tinggal bersebelahan dengannya, saya tahu hidup kesehariannya dan bagaimana ia berwacana dengan filsafat yang digumulinya. Aneka kata bijak dari filsuf Yunani sampai  filsuf modern dan setelahnya terlihat dalam ungkapan-ungkapannya yang sederhana. Ini pun tak mengherankan saya. Semakin orang menguasai filsafat (dan ilmu-ilmu lain), ia semakin mampu menerjemahkan, relatif secara tepat, hikmat kebijaksanaan filosofisnya bahkan kepada orang yang sederhana.

Yang membuat saya heran ialah dia sangat devotif. Ia punya devosi (klik di sini mengenai devosi) pada Bunda Maria; sikap dan kata-katanya pun begitu hormat pada yang sakral. Dari kaca mata awam, normalnya kalau orang berfilsafat ya dasarnya adalah kecerdasan otaknya. Maka, semakin orang piawai berfilsafat, tak mengherankan bahwa ia semakin mandiri dalam berpikir tanpa campur tangan Allah. Tetapi teman saya ini menunjukkan yang sebaliknya: ia semakin pasrah kepada Tuhan justru dalam berfilsafat.

*****

Mungkin Paulus kecewa dengan jemaat di Korintus yang lebih asyik dengan the golden way yang disodorkannya; mereka kira Paulus meladeni gaya hidup filsafat mereka, tetapi Paulus mewartakan sesuatu yang berbeda dari yang dipikirkan orang pada umumnya. Mungkin juga Paulus melakukan beberapa penyembuhan di Korintus sebagai tanda akan pokok pewartaannya: Yesus Kristus. Sayangnya, orang bisa berhenti pada tanda dan tidak melihat yang ditandakan itu: terpukau pada mukjizat tapi tidak melihat kekuatan Allah di balik mukjizat itu, dan terus sibuk mencari rasionalisasi semata.

Yesus pun dimintai tanda oleh orang-orang Nazareth tetapi ia menolaknya. Mengapa? Justru karena ia tahu bahwa orientasi orang-orang itu hanya sebatas tanda; mbok mau diberi tanda sebanyak apapun, jika hati bebal, ya tetap tidak akan menangkap kekuatan ilahi sendiri. Orang-orang seperti ini bersedia membayar berapapun untuk melihat tanda-tanda heboh atau wacana kata-kata bijak. Karenanya, kerumunan orang seperti ini menjadi konsumen empuk bagi mereka yang menguasai aneka kata-kata bijak: penuh hikmat kebijaksanaan, ujung-ujungnya duit!

Yesus tidak begitu: penuh hikmat kebijaksanaan, ujung-ujungnya pembebasan bagi para korban ketidakadilan, terutama yang miskin, tertindas, terpenjara…. semoga Florence (waduh… Florence nongol lagi) terbebaskan!


SENIN BIASA XXII A/2
1 September 2014

1Kor 2,1-5
Luk 4,16-30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s