Latihan Doa 42: Kotbah di Bukit

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Mat 5,1-12/Mat 5,13-48 (Sabda Bahagia; garam dan terang dunia)
Luk 6,17-36 (Biji sesawi, mutiara berharga)
Mat 6,1-34 (Doa Bapa Kami dan dua perumpamaan)
Mat 7,1-29 (Perumpamaan orang kaya yang bodoh dan kepercayaan pada penyelenggaraan Tuhan)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat pengetahuan batin yang mendalam akan pribadi-Mu, nilai-nilai injili-Mu dan khususnya cara-Mu mencinta supaya aku semakin jatuh cinta pada-Mu, mengikuti-Mu dan mencinta sebagaimana Engkau mencinta.

with money

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Kontemplasikanlah kotbah di bukit dari Tuhan Yesus.
    Imajinasikanlah Galilea (danau, gunung, bukit, padang) dan masuk dalam suasana doa, dalam adegan-adegan Injil, dengan mempertimbangkan tempat dan para murid serta kerumunan orang banyak di sana.
    Apakah yang kulihat? Apa saja yang kudengar? Kucium? Kusentuh? Mungkin juga kucecapi?
    Luangkan waktu untuk masuk dalam detil bagaimana Yesus berkotbah di bukit dan perlahan-lahan, pada akhirnya, memfokuskan perhatian pada-Nya dan menatap penuh kasih wajah-Nya.
    Kualitas dan nilai apakah yang menyentuhku saat aku bersama Yesus yang memanggil murid-murid pertama-Nya?
  • Setelah mengklarifikasi kualitas-kualitas dan nilai-nilai Tuhan (misalnya miskin dalam roh, haus dan lapar akan kesucian, belas kasih, murni hati), ambillah waktu untuk memohon kualitas dan nilai serupa bagi diriku.
  • Biarkanlah diriku mengalami banyak ketertarikan dan cinta kepada Tuhan saat mengkontemplasikan-Nya berkotbah di bukit — Anak Manusia yang sempurna dan sangat mengharapkan bahwa aku juga sempurna seperti Bapa sempurna adanya.
  • Sabda Bahagia memberitahu kita bahwa kekayaan material dan kuasa dunia tak terhubung dengan kebahagiaan yang sebenarnya; dan, pada akhirnya, meskipun sulit dan penuh godaan, sebagai murid-murid Kristus kita senantiasa diberkati Allah.
    Menjadi miskin dalam roh, lemah lembut, berbelas kasih, murni hati — ini adalah contoh makna ‘diberkati’ Allah dalam terang Sabda Bahagia karena pada akhirnya, hal-hal itulah yang membawa kita semakin dekat dengan Allah.
    Kapankah momen-momen dalam hidupku ketika aku merasakan sungguh diberkati Tuhan dalam terang Sabda Bahagia itu? Bagaimana persisnya Tuhan ‘memberkati’ aku?
    Kembalilah ke momen-momen itu dan hidupi kembali dalam doa.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan kotbah di bukit, Sabda Bahagia dan mendialogkan pokok-pokok tersebut di atas.
Berterima kasihlah pada-Nya atas kotbah di bukit dan Sabda Bahagia-Nya.
Mohon berkat Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas sentuhan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s